Mungkin akhir-akhir ini aku akan banyak menulis tentangnya. Kosa kata yang membuatku jatuh cinta.
Tak terlalu ramah, tak terlalu hangat, tak bisa membawa suasana,
terlalu kaku, terlalu angkuh, terlalu tidak peduli, terlalu tidak peka
terhadap sekitar. Gambaran kecil mengenainya. Tak ada istimewanya sama
sekali memang, tapi entah mengapa dia tetap saja nampak istimewa dalam keadaan apapun di mataku. Tidak gila ! Ini wajar untuk pemikiran orang yang sedang jatuh cinta.
Hujan mengguyur kotaku sejak siang tadi, titik-titik air itu akan
jatuh pada sembarang tempat. Membuat jalanan licin, becek dan kotor.
Tapi, bukankah hujan memiliki tempat yang istimewa bagi para manusia
yang sedang jatuh cinta? Memiliki aura yang akan membawanya untuk pergi
jauh, menemui sosok yang diam-diam hinggap dan menetap di hatinya.
Nyanyian hujan seperti nyanyian rindu. Terdengar jelas bagaimana
ketukan dan nada yang lirih-lirih memanggil namamu. Mungkin kau tidak
sadar, ahh yaa, bagaimana kau bisa sadar? Kau adalah makhluk yang paling
tidak peduli pada keadaan sekitar. Bahkan untuk menikmati hujan
sedetikpun, aku rasa kau tak akan sanggup. Dasar tuan sok sibuk !
Dan kali ini, aku tak kan menulis panjang mengenai dirimu. Aku hanya
akan memberimu sebuah penggalan puisi, puisi karya Pablo Neruda. Puisi
yang kuharapkan bisa membuatmu mengatakan "aku juga mencintaimu".
I see myself forgotten like those old anchors.
The piers sadden when the afternoon moors there.
My life grows tired, hungry to no purpose.
I love what I do not have. You are so far.
My loathing wrestles with the slow twilights.
But night comes and starts to sing to me.
The moon turns its clockwork dream.
The biggest stars look at me with your eyes.
And as I love you, the pines in the wind
want to sing your name with their leaves of wire.
Indah bukan?
Mungkin suatu saat nanti aku akan menuliskannya untukmu. Satu puisi
hasil karyaku sendiri, satu puisi yang akan menceritakanmu, dan satu
puisi yang akan membawaku menari berdua bersamamu.
Maaf jika setiap hari kau harus kupaksa menerima surat ini. Surat
kaleng dari seseorang yang mencintaimu. Surat buta dari seseorang yang
selalu berharap dapat melihatmu.
Dan seperti judul penggalan puisi karya Neruda itu, aku akan berbisik lirih padamu " Here I love you".
Tertanda,
Gadis melankolis yang masih selalu mendoakan kebaikanmu.
Jumat, 10 April 2015
Surat Pertama Untukmu ( Cinta Gadis Melankolis)
Mungkin gadis melankolis sepertiku dilarang merasakan cinta yang nyata.
Cukup boleh merasakan cinta dari novel yang kubawa kemana-mana, cinta
dunia khayal buah pemikiran manusia.
Yaa, aku menuliskannya ketika suasana hatiku sedang entahlah-tak karuan. Ingin menangis, tapi lelaki kaku itu bukan siapa-siapaku, ingin marah tapi lelaki dingin itu tak memiliki hubungan yang spesial denganku. Jadi, apa aku harus diam? Menerima segala macam takdir yang akan membawaku pada cinta sendirian.
Tak tahu kapan pastinya aku mulai mencintai makhluk kaku dan dingin itu. Semuanya mengalir apa adanya. Begitu sederhana seperti air mataku yang dengan mudahnya turun ketika sedang merindukannya.
Mungkin gadis melankolis sepertiku hanya boleh menyentuh novel, merasakan gejolak cinta yang dihadirkan 2 tokoh utama dalam urutan abjad yang disampul indah itu.
Lantas, apa gadis melankolis penyuka novel sepertiku dilarang berkhayal mendapatkan pelukan nyata? Dilarang merasakan bagaimana kelembutan bibirnya yang menyentuh pelan keningku? Apa gadis melankolis selalu di takdirkan patah hati sebelum merasakan bagaimana sensasi mendapat surprise pernyataan cinta yang romantis?
Aku hanya kebetulan sedang jatuh cinta pada lelaki sederhana yang bergaya dingin dan bersikap kaku. Cinta diam-diam yang kusembunyikan rapi, cinta diam-diam yang tak ingin tersentuh oleh siapapun. Cinta diam-diam yang mulai kunikmati setiap pengabaian yang menumbuhkan luka.
Mungkin aku salah, aku salah mengartikan pelukan yang tergambar lucu pada pesan singkatnya. Salah mengartikan bagaimana tulisan-tulisan itu mengeja kalimat khawatir ketika aku bilang bahwa aku sedang sakit. Yaa, mungkin aku salah, sangat salah ketika menganggapnya juga memiliki rasa yang sama denganku.
Dan untukmu ;
Aku mencintaimu, entah sejak kapan. Mungkin sejak pesan-pesan singkatmu menghidupkan lampu LED handphoneku, mungkin sejak 'is writing a message' darimu adalah kebahagiaan kecil yang mampu menggetarkan hatiku, atau mungkin sejak aku selalu menatap - terpaku pada layar handphoneku hanya untuk menunggu balasan pesan darimu.
Aku mulai menikmati jatuh cinta diam-diam ini, menikmati sensasi rindu yang entah harus bagaimana aku mengatakannya, menikmati setiap gejolak bahagia ketika kau membalas pesan singkatku, dan menikmati setiap keresahan ketika sampai tengah malam tak ada balasan apapun darimu.
Sudah yaa, aku ingin istirahat dulu. Dan kau, jagalah kesehatanmu. Kurangi begadang tiap malam dan mulailah belajar tidur tepat waktu. Aku mencintaimu.........
Tertanda,
Gadis melankolis yang diam-diam selalu mendoakan kebaikan untukmu.
Yaa, aku menuliskannya ketika suasana hatiku sedang entahlah-tak karuan. Ingin menangis, tapi lelaki kaku itu bukan siapa-siapaku, ingin marah tapi lelaki dingin itu tak memiliki hubungan yang spesial denganku. Jadi, apa aku harus diam? Menerima segala macam takdir yang akan membawaku pada cinta sendirian.
Tak tahu kapan pastinya aku mulai mencintai makhluk kaku dan dingin itu. Semuanya mengalir apa adanya. Begitu sederhana seperti air mataku yang dengan mudahnya turun ketika sedang merindukannya.
Mungkin gadis melankolis sepertiku hanya boleh menyentuh novel, merasakan gejolak cinta yang dihadirkan 2 tokoh utama dalam urutan abjad yang disampul indah itu.
Lantas, apa gadis melankolis penyuka novel sepertiku dilarang berkhayal mendapatkan pelukan nyata? Dilarang merasakan bagaimana kelembutan bibirnya yang menyentuh pelan keningku? Apa gadis melankolis selalu di takdirkan patah hati sebelum merasakan bagaimana sensasi mendapat surprise pernyataan cinta yang romantis?
Aku hanya kebetulan sedang jatuh cinta pada lelaki sederhana yang bergaya dingin dan bersikap kaku. Cinta diam-diam yang kusembunyikan rapi, cinta diam-diam yang tak ingin tersentuh oleh siapapun. Cinta diam-diam yang mulai kunikmati setiap pengabaian yang menumbuhkan luka.
Mungkin aku salah, aku salah mengartikan pelukan yang tergambar lucu pada pesan singkatnya. Salah mengartikan bagaimana tulisan-tulisan itu mengeja kalimat khawatir ketika aku bilang bahwa aku sedang sakit. Yaa, mungkin aku salah, sangat salah ketika menganggapnya juga memiliki rasa yang sama denganku.
Dan untukmu ;
Aku mencintaimu, entah sejak kapan. Mungkin sejak pesan-pesan singkatmu menghidupkan lampu LED handphoneku, mungkin sejak 'is writing a message' darimu adalah kebahagiaan kecil yang mampu menggetarkan hatiku, atau mungkin sejak aku selalu menatap - terpaku pada layar handphoneku hanya untuk menunggu balasan pesan darimu.
Aku mulai menikmati jatuh cinta diam-diam ini, menikmati sensasi rindu yang entah harus bagaimana aku mengatakannya, menikmati setiap gejolak bahagia ketika kau membalas pesan singkatku, dan menikmati setiap keresahan ketika sampai tengah malam tak ada balasan apapun darimu.
Sudah yaa, aku ingin istirahat dulu. Dan kau, jagalah kesehatanmu. Kurangi begadang tiap malam dan mulailah belajar tidur tepat waktu. Aku mencintaimu.........
Tertanda,
Gadis melankolis yang diam-diam selalu mendoakan kebaikan untukmu.
Perpustakaan Sudut Kota (FF)
Aku melihatnya. Entah siapa namanya. Gayanya khas seniman,tak rapi
dengan rambut yang dibiarkan panjang. Entah buku apa lagi yang
dilahapnya kali ini, matanya begitu serius menatap aksara-aksara yang
berteriak ingin dipahami.
Perpustakaan hari ini tak terlalu ramai. Hanya beberapa kursi yang diisi oleh para pecinta fiksi. Sibuk bergelayut dalam angan, membiarkan diri sejenak berkhayal menjadi tokoh utama dalam untaian bermanja kasih sayang.
Aku menuju rak berisikan buku mengenai kesusastraan. Mengambil novel fiktif secara acak dan kemudian melangkahkan kaki untuk duduk di kursi yang disediakan,dan kali ini aku akan duduk di sampingnya.
Kulirik wajah yang kuperhatikan sejak tadi dengan ekor mataku. Dan siluetnya terlihat manis. Begitu manis, dan jantungku entah mengapa berdegup sangat kencang. Sudah kupotret wajahnya dalam ingatan. Jauh lebih abadi daripada memotretnya menggunakan ponsel atau kamera berlensa panjang khas jaman sekarang.
Pura-pura kubuka buku yang sama sekali tak minat kubaca saat ini. Memandangnya lebih menyenangkan daripada memandang huruf demi huruf yang dirangkai menjadi janji indah itu. Sesekali kulirik lelaki sedikit gondrong disebelahku ini. Dan senyum simpul selalu mengikuti setiap lirikan mataku padanya. Iku tersenyum, bahagia.
"Dik..."
Suara yang terdengar sangat dekat,tapi entah darimana dan untuk siapa.
"Dik..."
Ucapnya lagi.
Aku menoleh kearah sumber suara. Terlihat lelaki itu memandang kearahku,dengan mata tegas yang seperti menyimpan banyak kerinduan.
"Saya mas?" Tanyaku padanya.
"Iya,kamu." Jawabnya dengan senyum simpul.
"Pengunjung tetap yaa,kok aku sering lihat kamu disini." Tanyanya ramah,dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya.
Aku mengangguk pelan, sebagai jawaban atas pertanyaannya.
" Mario,panggil saja Rio." ucapnya memperkenalkan diri,sambil mengulurkan tangannya.
"Alyssa,tetapi lebih sering dipanggil Ify." Ucapku sambil menyambut uluran tangannya.
Selanjutnya obrolan kecil pun tercipta. Kami membicarakan para penyair dan novelis terkenal Indonesia. Dan dalam obrolan kecil kami, satu hal yang sama. Kami sama-sama menyukai penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisinya yang menggetarkan jiwa, sederhana namun menusuk relung dada.
" Kamu tau gak dik,kata-kata paling romantis di puisinya bapak sapardi apa?" Tanyanya padaku.
"Apa mas?" Timpalku.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. " Ucapnya padaku, mantap, seperti seseorang yang menyatakan cinta pada kekasihnya.
Aku tertegun mendengarnya. Begitu indah.
"Kalau kamu dik?" Tanyanya padaku.
" Kalau aku suka puisinya yang berjudul pada suatu hari nanti mas." Jawabku.
"Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi tapi di dalam baik-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri" ucapku mengucapkan bait pertama.
" Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagi tapi diantara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati" lanjutmu mengucapkan bait kedua.
" Pada suatu hari nanti, impianku pun tak dikenal lagi namun disela-sela huruf sajak ini kau tak akan letih-letihnya ku cari." Ucapku mengucap bait ketiga,bait terakhir dari puisi yang berjudul Pada Suatu Hari Nanti.
***
Lamunanku buyar ketika ada yang menyentuh bahuku pelan.
"Fy...." Panggil Shilla,penjaga perpustakaan yang juga sebagai sahabatku itu dengan nada sendu.
" Sudah satu tahun terakhir shill,dan aku merindukannya." Kataku dengan nada sedikit bergetar.
" Dia pasti punya alasan kenapa bisa pergi tanpa meninggalkan pesan." Ucap Shilla padaku.
" Alasan? Alasan yang bagaimana shill? Alasan yang bisa membunuhku kapan saja karena terus menunggunya. Alasan yang bisa menyakitiku kapanpun karena aku masih berharap dia kembali padaku, lalu mengucapkan - april mop -. Alasan yang aku sama sekali gak ngerti kenapa dia bisa kayak gini, pergi dan hilang tanpa secuil pesan." Tangisku pecah.
" Ify..." Panggil Shilla lalu kemudian merengkuhku hangat,khas seorang sahabat.
Aku tak tahu lagi,apakah harus tetap mempercayai puisi-puisimu dulu? Puisi yang setiap baitnya selalu bercerita tentang cinta, tentang kamu, tentang aku, tentang kita.
Dan, diantara rak-rak buku di tempat ini. Di kursi sudut ruangan, menghadap jam dinding besar yang menunjukkan pukul 2 siang. kau pernah berbisik lembut padaku. Membisikkan penggalan puisi yang begitu indah maknanya.
" Yang fana adalah waktu, kita abadi" katamu sambil mengecup keningku pelan.
Dan disini, ditempat yang sama, si tempat duduk yang sama, dan waktu yang menunjukkan pukul 2 siang. Aku ingin berbisik lembut padamu.
" Aku menunggumu di perpustakaan sudut kota ini mas. Pulanglah."
Perpustakaan hari ini tak terlalu ramai. Hanya beberapa kursi yang diisi oleh para pecinta fiksi. Sibuk bergelayut dalam angan, membiarkan diri sejenak berkhayal menjadi tokoh utama dalam untaian bermanja kasih sayang.
Aku menuju rak berisikan buku mengenai kesusastraan. Mengambil novel fiktif secara acak dan kemudian melangkahkan kaki untuk duduk di kursi yang disediakan,dan kali ini aku akan duduk di sampingnya.
Kulirik wajah yang kuperhatikan sejak tadi dengan ekor mataku. Dan siluetnya terlihat manis. Begitu manis, dan jantungku entah mengapa berdegup sangat kencang. Sudah kupotret wajahnya dalam ingatan. Jauh lebih abadi daripada memotretnya menggunakan ponsel atau kamera berlensa panjang khas jaman sekarang.
Pura-pura kubuka buku yang sama sekali tak minat kubaca saat ini. Memandangnya lebih menyenangkan daripada memandang huruf demi huruf yang dirangkai menjadi janji indah itu. Sesekali kulirik lelaki sedikit gondrong disebelahku ini. Dan senyum simpul selalu mengikuti setiap lirikan mataku padanya. Iku tersenyum, bahagia.
"Dik..."
Suara yang terdengar sangat dekat,tapi entah darimana dan untuk siapa.
"Dik..."
Ucapnya lagi.
Aku menoleh kearah sumber suara. Terlihat lelaki itu memandang kearahku,dengan mata tegas yang seperti menyimpan banyak kerinduan.
"Saya mas?" Tanyaku padanya.
"Iya,kamu." Jawabnya dengan senyum simpul.
"Pengunjung tetap yaa,kok aku sering lihat kamu disini." Tanyanya ramah,dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya.
Aku mengangguk pelan, sebagai jawaban atas pertanyaannya.
" Mario,panggil saja Rio." ucapnya memperkenalkan diri,sambil mengulurkan tangannya.
"Alyssa,tetapi lebih sering dipanggil Ify." Ucapku sambil menyambut uluran tangannya.
Selanjutnya obrolan kecil pun tercipta. Kami membicarakan para penyair dan novelis terkenal Indonesia. Dan dalam obrolan kecil kami, satu hal yang sama. Kami sama-sama menyukai penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisinya yang menggetarkan jiwa, sederhana namun menusuk relung dada.
" Kamu tau gak dik,kata-kata paling romantis di puisinya bapak sapardi apa?" Tanyanya padaku.
"Apa mas?" Timpalku.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. " Ucapnya padaku, mantap, seperti seseorang yang menyatakan cinta pada kekasihnya.
Aku tertegun mendengarnya. Begitu indah.
"Kalau kamu dik?" Tanyanya padaku.
" Kalau aku suka puisinya yang berjudul pada suatu hari nanti mas." Jawabku.
"Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi tapi di dalam baik-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri" ucapku mengucapkan bait pertama.
" Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagi tapi diantara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati" lanjutmu mengucapkan bait kedua.
" Pada suatu hari nanti, impianku pun tak dikenal lagi namun disela-sela huruf sajak ini kau tak akan letih-letihnya ku cari." Ucapku mengucap bait ketiga,bait terakhir dari puisi yang berjudul Pada Suatu Hari Nanti.
***
Lamunanku buyar ketika ada yang menyentuh bahuku pelan.
"Fy...." Panggil Shilla,penjaga perpustakaan yang juga sebagai sahabatku itu dengan nada sendu.
" Sudah satu tahun terakhir shill,dan aku merindukannya." Kataku dengan nada sedikit bergetar.
" Dia pasti punya alasan kenapa bisa pergi tanpa meninggalkan pesan." Ucap Shilla padaku.
" Alasan? Alasan yang bagaimana shill? Alasan yang bisa membunuhku kapan saja karena terus menunggunya. Alasan yang bisa menyakitiku kapanpun karena aku masih berharap dia kembali padaku, lalu mengucapkan - april mop -. Alasan yang aku sama sekali gak ngerti kenapa dia bisa kayak gini, pergi dan hilang tanpa secuil pesan." Tangisku pecah.
" Ify..." Panggil Shilla lalu kemudian merengkuhku hangat,khas seorang sahabat.
Aku tak tahu lagi,apakah harus tetap mempercayai puisi-puisimu dulu? Puisi yang setiap baitnya selalu bercerita tentang cinta, tentang kamu, tentang aku, tentang kita.
Dan, diantara rak-rak buku di tempat ini. Di kursi sudut ruangan, menghadap jam dinding besar yang menunjukkan pukul 2 siang. kau pernah berbisik lembut padaku. Membisikkan penggalan puisi yang begitu indah maknanya.
" Yang fana adalah waktu, kita abadi" katamu sambil mengecup keningku pelan.
Dan disini, ditempat yang sama, si tempat duduk yang sama, dan waktu yang menunjukkan pukul 2 siang. Aku ingin berbisik lembut padamu.
" Aku menunggumu di perpustakaan sudut kota ini mas. Pulanglah."
LAMARAN (ff special RiFy)
Langit biru yang cerah mengiringi ceritaku hari ini.Tak ada hujan,tak
ada kabut tebal berwarna hitam.Yang ada hanya busa-busa putih yang
menggantung indah di langit biru yang cerah.
Laki-laki itu datang kerumah.Dengan sebuket bunga mawar merah dan segenggam keberanian untuk menemui papaku.Entah apa yang akan dilakukannya.Hatiku berdebar tak karuan.Aku begitu takut dia melakukan hal gila atau hal bodoh di depan papaku.Hatiku was-was,namun ditilik dari reaksi tubuhnya yang begitu tenang,hatiku sedikit terasa hangat.
"Silaturrahmi",hanya itu yang dikatakannya ketika aku bertanya apa tujuannya datang kesini dan ingin bertemu papaku.Alasan yang cukup masuk akal,namun tak bisa diterima oleh hatiku.Hatiku ingin penjelasan lebih,namun laki-laki menyebalkan itu tetap bungkam dan hanya menjawab pertanyaanku dengan senyuman.
Hanya berdua di ruang tamu.Tanpa suara,berkecamuk dalam pikiran masing-masing.Tampilannya begitu rapi.Melihatnya memakai setelan kemeja berwarna putih dengan raut muka tegang seperti itu entah mengapa membuatku ingin tertawa sekencang-kencangnya.
Aku memandangnya dengan tatapan aneh.Ingin tertawa melihatnya seperti ini.keningku berkerut dan bibirku menyunggingkan senyum.
"Kenapa?" Tanyanya sambil menoleh ke arahku.
Aku menggelengkan kepala pelan,masih dengan tersenyum kearahnya.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu.Kamu kenapa?aneh tau gak lihat kamu kayak gini." Ucapku santai.
"Nanti juga bakal tau aku kenapa." Ucapnya santai,sambil menyunggingkan senyum teka-teki.
"Aneh." Ucapku sambil memalingkan wajah,lantas mengambil majalah yang ada di atas meja.
"Kamu terus bilang aku aneh.Padahal udah ganteng gini." Ucapnya narsis yang membuatku melengos.
"Cuma tante Rosa yang bilang kamu ganteng,aku mah kagak pernah." Ucapku sambil menjulurkan lidah.
"Berhenti manggil mama dengan sebutan tante deh.Lagian,bentar lagi juga bakal jadi mama kamu." Ucapnya sambil memandang raut mukaku yang mendadak kaku.
"Hah???" Jawabku kaget.
"Hahahaha...." Dia tertawa melihat wajah oonku saat ini.
"Udahh...pergi sana,tuh papa kamu udah mau kesini.Urusan cowok,jadi kamu gak boleh ganggu." Lanjutnya sambil mendorong bahuku.
"Yang punya rumah siapa,yang ngusir siapa." Ucapku ngeledek.
Dia hanya terkekeh melihat bibirku yang mulai manyun akibat ulahnya.
***
Kukuping percakapan dua laki-laki itu bersama mama.
"Apa kabar Mario?" Tanya ayahku memulai percakapan.
"Sangat baik,om apa kabar?sehat?" Jawab sekaligus tanya Rio pada papaku.
"Seperti yang kamu lihat nak,sehat sekali.Papa mamamu bagaimana?sehat?" Tanya papaku lagi.
"Alhamdulillah semua baik om." Jawab Rio ramah.
10 menit berlalu,mereka saling diam.Mungkin bingung ingin membicarakan hal apa dan memulai dari mana.Hatiku entah mengapa ikut was-was melihat raut wajah Rio yang semakin tegang.
"Om..." Kudengar Rio memecah keheningan di ruang tamu.
Satu tarikan nafas panjang terlihat begitu jelas oleh indra penglihatanku.Kugenggam erat jari jemari mamaku.Hatiku berdegub tak karuan,menunggu kata-kata apa yang ingin diucapkan Rio pada papaku.
"Tujuan Rio datang kesini ingin membicarakan sesuatu hal yang menurut Rio sangat penting untuk masa depan Rio.Kehidupan Rio,kebahagiaan Rio dan Kesempurnaan hidup Rio,dan itu semua ada di tangan om hari ini..." Ucapnya tertahan,terlihat menarik nafas panjang sekali lagi.
Kulihat papa menatap rio dengan kening berkerut.Mungkin bingung sekaligus tidak paham dengan apa yang Rio ucapkan barusan."Dasar pria bodoh,mengapa berbelit-belit seperti itu." Ucapku geram dalam hati.
"Sebelumnya maaf kalau Rio mengganggu waktu istirahat om.Tapi sumpah,hari ini Rio telah bertekad ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting pada om.Rio sangat mencintai anak sulung om.Alyssa Saufika Umari..." Ucapnya terhenti.
Aku kaget mendengar ucapan laki-laki menyebalkan itu.Lalu sedetik kemudian tersenyum.Ku genggam semakin erat tangan mamaku.Ku lihat mama yang disampingku juga ikut tersenyum mendengar penuturan Rio.
"Sudah 4 tahun terakhir ini,nama itu yang selalu ada di hati dan juga pikiran Rio,nama anak sulung om.Sepertinya putri kecil om sudah berhasil menguasai seluruh hati dan pikiran Rio.Tapi Rio sama sekali tak keberatan,karena sepertinya Rio benar-benar jatuh cinta pada putri kecil om...."
"Jadi???" Sela papaku.
"Rio mau meminta izin pada om untuk menjadikan Ify gadis terakhir yang akan menemani hidup Rio.Menjadikan anak om sebagai istri dan menjadikan putri om sebagai satu-satunya ratu yang akan mengisi hati Rio...." Ucapan Rio terhenti,terlihat keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Entah mengapa air mataku menyeruak keluar mendengar ucapan Rio pada papaku."Maa..." Ucapku menghadap mama,"Apa ini sebuah lamaran?" Tanyaku pada mama.Hanya senyuman yang menjadi jawaban atas pertanyaanku tadi.Jemari lentiknya mengusap air mataku dengan perlahan.Kupeluk erat mamaku dan kutumpahkan air mata kebahagiaanku dipelukannya.
"Rio berjanji..." Terdengar Rio mulai mengucap isi hatinya pada papa.
"Rio akan membahagiakan Ify.Tak akan ada satupun air mata kesedihan yang keluar dari mata cantik anak sulung om.Sepenuh hati Rio akan membahagiakannya dan menjaganya dari apapun dan siapapun.Kalau suatu saat nanti,ternyata Rio melanggar ucapan janji Rio hari ini,om boleh langsung menghajar atau bahkan membunuh Rio saat itu juga..." Ucapnya yakin.
"Apa ini sebuah lamaran Mario Haling?" Tanya papaku padanya.
"Entah bisa disebut lamaran atau tidak,Rio tak tahu itu.Yang pasti,Rio disini,dihadapan om Ferdi,sekali lagi ingin meminta izin untuk membahagiakan hidup Alyssa Saufika Umari dan akan berjanji menjaganya dari apapun dan siapapun.Apa Om Ferdi mengizinkannya?" Ucap Rio mantap sepenuh hati.
Terlihat papa hanya diam disana,tak membuka mulutnya.Tak memberi jawaban apapun atas segala macam janji sumpah yang diucapkan Rio.
Menit demi menit berlalu,sunyi,sepi dan tak terdengar siapapun yang berbicara.Terlihat Rio semakin tegang disana.Raut mukanya tak bisa terdeskripsikan ekspresinya.
Papa bangkit dari tempat duduknya.Lantas tersenyum seraya berkata "Om mengizinkan,bahagiakan Ify.".Ucapannya yang langsung membuat Rio bangkit dari tempat duduknya.Mendekati papa lantas mencium tangan papa dan memeluk papa erat.Terlihat raut muka bahagia disana,teramat bahagia.Hingga matanya terlihat sedikit berair."Terima kasih om." Hanya itu yang terdengar lirih suara Rio saat memeluk papa.
Kudekati dua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku itu.Kutubrukkan tubuhku ke pelukan papa.Kupeluk erat laki-laki paruh baya itu.Kutenggelamkan tangis kebahagiaanku pada dadanya.Lalu,kutarik diriku pelan-pelan.
Kulihat Rio sedang mencium tangan mama,dan memeluk mama setelahnya.
Kedekati Rio perlahan,laki-laki itu memandangku hangat,tulus dan penuh cinta.Dibukakannya bingkisan kotak kecil berwarna hitam yang disimpan disakunya.Cincin putih bermata berlian warna ungu yang sangat cantik sedang ada di depanku.Perlahan di raihnya tanganku dan memasangkannya cincin cantik itu pada jari manisku.Air mata bahagiaku jatuh tak tertahan.
Kupeluk Rio setelah ia selesai memasangkan cincin."Aku sayang kamu." ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.Aku hanya mampu menganggukan kepala dalam pelukannya,sebagai isyarat yang berarti "Aku juga menyayangimu,Mario Stevano Aditya Haling."
Laki-laki itu datang kerumah.Dengan sebuket bunga mawar merah dan segenggam keberanian untuk menemui papaku.Entah apa yang akan dilakukannya.Hatiku berdebar tak karuan.Aku begitu takut dia melakukan hal gila atau hal bodoh di depan papaku.Hatiku was-was,namun ditilik dari reaksi tubuhnya yang begitu tenang,hatiku sedikit terasa hangat.
"Silaturrahmi",hanya itu yang dikatakannya ketika aku bertanya apa tujuannya datang kesini dan ingin bertemu papaku.Alasan yang cukup masuk akal,namun tak bisa diterima oleh hatiku.Hatiku ingin penjelasan lebih,namun laki-laki menyebalkan itu tetap bungkam dan hanya menjawab pertanyaanku dengan senyuman.
Hanya berdua di ruang tamu.Tanpa suara,berkecamuk dalam pikiran masing-masing.Tampilannya begitu rapi.Melihatnya memakai setelan kemeja berwarna putih dengan raut muka tegang seperti itu entah mengapa membuatku ingin tertawa sekencang-kencangnya.
Aku memandangnya dengan tatapan aneh.Ingin tertawa melihatnya seperti ini.keningku berkerut dan bibirku menyunggingkan senyum.
"Kenapa?" Tanyanya sambil menoleh ke arahku.
Aku menggelengkan kepala pelan,masih dengan tersenyum kearahnya.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu.Kamu kenapa?aneh tau gak lihat kamu kayak gini." Ucapku santai.
"Nanti juga bakal tau aku kenapa." Ucapnya santai,sambil menyunggingkan senyum teka-teki.
"Aneh." Ucapku sambil memalingkan wajah,lantas mengambil majalah yang ada di atas meja.
"Kamu terus bilang aku aneh.Padahal udah ganteng gini." Ucapnya narsis yang membuatku melengos.
"Cuma tante Rosa yang bilang kamu ganteng,aku mah kagak pernah." Ucapku sambil menjulurkan lidah.
"Berhenti manggil mama dengan sebutan tante deh.Lagian,bentar lagi juga bakal jadi mama kamu." Ucapnya sambil memandang raut mukaku yang mendadak kaku.
"Hah???" Jawabku kaget.
"Hahahaha...." Dia tertawa melihat wajah oonku saat ini.
"Udahh...pergi sana,tuh papa kamu udah mau kesini.Urusan cowok,jadi kamu gak boleh ganggu." Lanjutnya sambil mendorong bahuku.
"Yang punya rumah siapa,yang ngusir siapa." Ucapku ngeledek.
Dia hanya terkekeh melihat bibirku yang mulai manyun akibat ulahnya.
***
Kukuping percakapan dua laki-laki itu bersama mama.
"Apa kabar Mario?" Tanya ayahku memulai percakapan.
"Sangat baik,om apa kabar?sehat?" Jawab sekaligus tanya Rio pada papaku.
"Seperti yang kamu lihat nak,sehat sekali.Papa mamamu bagaimana?sehat?" Tanya papaku lagi.
"Alhamdulillah semua baik om." Jawab Rio ramah.
10 menit berlalu,mereka saling diam.Mungkin bingung ingin membicarakan hal apa dan memulai dari mana.Hatiku entah mengapa ikut was-was melihat raut wajah Rio yang semakin tegang.
"Om..." Kudengar Rio memecah keheningan di ruang tamu.
Satu tarikan nafas panjang terlihat begitu jelas oleh indra penglihatanku.Kugenggam erat jari jemari mamaku.Hatiku berdegub tak karuan,menunggu kata-kata apa yang ingin diucapkan Rio pada papaku.
"Tujuan Rio datang kesini ingin membicarakan sesuatu hal yang menurut Rio sangat penting untuk masa depan Rio.Kehidupan Rio,kebahagiaan Rio dan Kesempurnaan hidup Rio,dan itu semua ada di tangan om hari ini..." Ucapnya tertahan,terlihat menarik nafas panjang sekali lagi.
Kulihat papa menatap rio dengan kening berkerut.Mungkin bingung sekaligus tidak paham dengan apa yang Rio ucapkan barusan."Dasar pria bodoh,mengapa berbelit-belit seperti itu." Ucapku geram dalam hati.
"Sebelumnya maaf kalau Rio mengganggu waktu istirahat om.Tapi sumpah,hari ini Rio telah bertekad ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting pada om.Rio sangat mencintai anak sulung om.Alyssa Saufika Umari..." Ucapnya terhenti.
Aku kaget mendengar ucapan laki-laki menyebalkan itu.Lalu sedetik kemudian tersenyum.Ku genggam semakin erat tangan mamaku.Ku lihat mama yang disampingku juga ikut tersenyum mendengar penuturan Rio.
"Sudah 4 tahun terakhir ini,nama itu yang selalu ada di hati dan juga pikiran Rio,nama anak sulung om.Sepertinya putri kecil om sudah berhasil menguasai seluruh hati dan pikiran Rio.Tapi Rio sama sekali tak keberatan,karena sepertinya Rio benar-benar jatuh cinta pada putri kecil om...."
"Jadi???" Sela papaku.
"Rio mau meminta izin pada om untuk menjadikan Ify gadis terakhir yang akan menemani hidup Rio.Menjadikan anak om sebagai istri dan menjadikan putri om sebagai satu-satunya ratu yang akan mengisi hati Rio...." Ucapan Rio terhenti,terlihat keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Entah mengapa air mataku menyeruak keluar mendengar ucapan Rio pada papaku."Maa..." Ucapku menghadap mama,"Apa ini sebuah lamaran?" Tanyaku pada mama.Hanya senyuman yang menjadi jawaban atas pertanyaanku tadi.Jemari lentiknya mengusap air mataku dengan perlahan.Kupeluk erat mamaku dan kutumpahkan air mata kebahagiaanku dipelukannya.
"Rio berjanji..." Terdengar Rio mulai mengucap isi hatinya pada papa.
"Rio akan membahagiakan Ify.Tak akan ada satupun air mata kesedihan yang keluar dari mata cantik anak sulung om.Sepenuh hati Rio akan membahagiakannya dan menjaganya dari apapun dan siapapun.Kalau suatu saat nanti,ternyata Rio melanggar ucapan janji Rio hari ini,om boleh langsung menghajar atau bahkan membunuh Rio saat itu juga..." Ucapnya yakin.
"Apa ini sebuah lamaran Mario Haling?" Tanya papaku padanya.
"Entah bisa disebut lamaran atau tidak,Rio tak tahu itu.Yang pasti,Rio disini,dihadapan om Ferdi,sekali lagi ingin meminta izin untuk membahagiakan hidup Alyssa Saufika Umari dan akan berjanji menjaganya dari apapun dan siapapun.Apa Om Ferdi mengizinkannya?" Ucap Rio mantap sepenuh hati.
Terlihat papa hanya diam disana,tak membuka mulutnya.Tak memberi jawaban apapun atas segala macam janji sumpah yang diucapkan Rio.
Menit demi menit berlalu,sunyi,sepi dan tak terdengar siapapun yang berbicara.Terlihat Rio semakin tegang disana.Raut mukanya tak bisa terdeskripsikan ekspresinya.
Papa bangkit dari tempat duduknya.Lantas tersenyum seraya berkata "Om mengizinkan,bahagiakan Ify.".Ucapannya yang langsung membuat Rio bangkit dari tempat duduknya.Mendekati papa lantas mencium tangan papa dan memeluk papa erat.Terlihat raut muka bahagia disana,teramat bahagia.Hingga matanya terlihat sedikit berair."Terima kasih om." Hanya itu yang terdengar lirih suara Rio saat memeluk papa.
Kudekati dua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku itu.Kutubrukkan tubuhku ke pelukan papa.Kupeluk erat laki-laki paruh baya itu.Kutenggelamkan tangis kebahagiaanku pada dadanya.Lalu,kutarik diriku pelan-pelan.
Kulihat Rio sedang mencium tangan mama,dan memeluk mama setelahnya.
Kedekati Rio perlahan,laki-laki itu memandangku hangat,tulus dan penuh cinta.Dibukakannya bingkisan kotak kecil berwarna hitam yang disimpan disakunya.Cincin putih bermata berlian warna ungu yang sangat cantik sedang ada di depanku.Perlahan di raihnya tanganku dan memasangkannya cincin cantik itu pada jari manisku.Air mata bahagiaku jatuh tak tertahan.
Kupeluk Rio setelah ia selesai memasangkan cincin."Aku sayang kamu." ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.Aku hanya mampu menganggukan kepala dalam pelukannya,sebagai isyarat yang berarti "Aku juga menyayangimu,Mario Stevano Aditya Haling."
Langganan:
Postingan (Atom)