Langit biru yang cerah mengiringi ceritaku hari ini.Tak ada hujan,tak
ada kabut tebal berwarna hitam.Yang ada hanya busa-busa putih yang
menggantung indah di langit biru yang cerah.
Laki-laki itu datang kerumah.Dengan sebuket bunga mawar merah dan
segenggam keberanian untuk menemui papaku.Entah apa yang akan
dilakukannya.Hatiku berdebar tak karuan.Aku
begitu takut dia melakukan hal gila atau hal bodoh di depan
papaku.Hatiku was-was,namun ditilik dari reaksi tubuhnya yang begitu
tenang,hatiku sedikit terasa hangat.
"Silaturrahmi",hanya itu yang dikatakannya ketika aku bertanya apa
tujuannya datang kesini dan ingin bertemu papaku.Alasan yang cukup masuk
akal,namun tak bisa diterima oleh hatiku.Hatiku ingin penjelasan
lebih,namun laki-laki menyebalkan itu tetap bungkam dan hanya menjawab
pertanyaanku dengan senyuman.
Hanya berdua di ruang tamu.Tanpa suara,berkecamuk dalam pikiran
masing-masing.Tampilannya begitu rapi.Melihatnya memakai setelan kemeja
berwarna putih dengan raut muka tegang seperti itu entah mengapa
membuatku ingin tertawa sekencang-kencangnya.
Aku memandangnya dengan tatapan aneh.Ingin tertawa melihatnya seperti ini.keningku berkerut dan bibirku menyunggingkan senyum.
"Kenapa?" Tanyanya sambil menoleh ke arahku.
Aku menggelengkan kepala pelan,masih dengan tersenyum kearahnya.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu.Kamu kenapa?aneh tau gak lihat kamu kayak gini." Ucapku santai.
"Nanti juga bakal tau aku kenapa." Ucapnya santai,sambil menyunggingkan senyum teka-teki.
"Aneh." Ucapku sambil memalingkan wajah,lantas mengambil majalah yang ada di atas meja.
"Kamu terus bilang aku aneh.Padahal udah ganteng gini." Ucapnya narsis yang membuatku melengos.
"Cuma tante Rosa yang bilang kamu ganteng,aku mah kagak pernah." Ucapku sambil menjulurkan lidah.
"Berhenti manggil mama dengan sebutan tante deh.Lagian,bentar lagi
juga bakal jadi mama kamu." Ucapnya sambil memandang raut mukaku yang
mendadak kaku.
"Hah???" Jawabku kaget.
"Hahahaha...." Dia tertawa melihat wajah oonku saat ini.
"Udahh...pergi sana,tuh papa kamu udah mau kesini.Urusan cowok,jadi kamu gak boleh ganggu." Lanjutnya sambil mendorong bahuku.
"Yang punya rumah siapa,yang ngusir siapa." Ucapku ngeledek.
Dia hanya terkekeh melihat bibirku yang mulai manyun akibat ulahnya.
***
Kukuping percakapan dua laki-laki itu bersama mama.
"Apa kabar Mario?" Tanya ayahku memulai percakapan.
"Sangat baik,om apa kabar?sehat?" Jawab sekaligus tanya Rio pada papaku.
"Seperti yang kamu lihat nak,sehat sekali.Papa mamamu bagaimana?sehat?" Tanya papaku lagi.
"Alhamdulillah semua baik om." Jawab Rio ramah.
10 menit berlalu,mereka saling diam.Mungkin bingung ingin
membicarakan hal apa dan memulai dari mana.Hatiku entah mengapa ikut
was-was melihat raut wajah Rio yang semakin tegang.
"Om..." Kudengar Rio memecah keheningan di ruang tamu.
Satu tarikan nafas panjang terlihat begitu jelas oleh indra
penglihatanku.Kugenggam erat jari jemari mamaku.Hatiku berdegub tak
karuan,menunggu kata-kata apa yang ingin diucapkan Rio pada papaku.
"Tujuan Rio datang kesini ingin membicarakan sesuatu hal yang
menurut Rio sangat penting untuk masa depan Rio.Kehidupan
Rio,kebahagiaan Rio dan Kesempurnaan hidup Rio,dan itu semua ada di
tangan om hari ini..." Ucapnya tertahan,terlihat menarik nafas panjang
sekali lagi.
Kulihat papa menatap rio dengan kening berkerut.Mungkin bingung
sekaligus tidak paham dengan apa yang Rio ucapkan barusan."Dasar pria
bodoh,mengapa berbelit-belit seperti itu." Ucapku geram dalam hati.
"Sebelumnya maaf kalau Rio mengganggu waktu istirahat om.Tapi
sumpah,hari ini Rio telah bertekad ingin membicarakan sesuatu hal yang
sangat penting pada om.Rio sangat mencintai anak sulung om.Alyssa
Saufika Umari..." Ucapnya terhenti.
Aku kaget mendengar ucapan laki-laki menyebalkan itu.Lalu sedetik
kemudian tersenyum.Ku genggam semakin erat tangan mamaku.Ku lihat mama
yang disampingku juga ikut tersenyum mendengar penuturan Rio.
"Sudah 4 tahun terakhir ini,nama itu yang selalu ada di hati dan
juga pikiran Rio,nama anak sulung om.Sepertinya putri kecil om sudah
berhasil menguasai seluruh hati dan pikiran Rio.Tapi Rio sama sekali tak
keberatan,karena sepertinya Rio benar-benar jatuh cinta pada putri
kecil om...."
"Jadi???" Sela papaku.
"Rio mau meminta izin pada om untuk menjadikan Ify gadis terakhir
yang akan menemani hidup Rio.Menjadikan anak om sebagai istri dan
menjadikan putri om sebagai satu-satunya ratu yang akan mengisi hati
Rio...." Ucapan Rio terhenti,terlihat keringat dingin mulai membasahi
keningnya.
Entah mengapa air mataku menyeruak keluar mendengar ucapan Rio pada
papaku."Maa..." Ucapku menghadap mama,"Apa ini sebuah lamaran?" Tanyaku
pada mama.Hanya senyuman yang menjadi jawaban atas pertanyaanku
tadi.Jemari lentiknya mengusap air mataku dengan perlahan.Kupeluk erat
mamaku dan kutumpahkan air mata kebahagiaanku dipelukannya.
"Rio berjanji..." Terdengar Rio mulai mengucap isi hatinya pada papa.
"Rio akan membahagiakan Ify.Tak akan ada satupun air mata kesedihan
yang keluar dari mata cantik anak sulung om.Sepenuh hati Rio akan
membahagiakannya dan menjaganya dari apapun dan siapapun.Kalau suatu
saat nanti,ternyata Rio melanggar ucapan janji Rio hari ini,om boleh
langsung menghajar atau bahkan membunuh Rio saat itu juga..." Ucapnya
yakin.
"Apa ini sebuah lamaran Mario Haling?" Tanya papaku padanya.
"Entah bisa disebut lamaran atau tidak,Rio tak tahu itu.Yang
pasti,Rio disini,dihadapan om Ferdi,sekali lagi ingin meminta izin untuk
membahagiakan hidup Alyssa Saufika Umari dan akan berjanji menjaganya
dari apapun dan siapapun.Apa Om Ferdi mengizinkannya?" Ucap Rio mantap
sepenuh hati.
Terlihat papa hanya diam disana,tak membuka mulutnya.Tak memberi
jawaban apapun atas segala macam janji sumpah yang diucapkan Rio.
Menit demi menit berlalu,sunyi,sepi dan tak terdengar siapapun yang
berbicara.Terlihat Rio semakin tegang disana.Raut mukanya tak bisa
terdeskripsikan ekspresinya.
Papa bangkit dari tempat duduknya.Lantas tersenyum seraya berkata
"Om mengizinkan,bahagiakan Ify.".Ucapannya yang langsung membuat Rio
bangkit dari tempat duduknya.Mendekati papa lantas mencium tangan papa
dan memeluk papa erat.Terlihat raut muka bahagia disana,teramat
bahagia.Hingga matanya terlihat sedikit berair."Terima kasih om." Hanya
itu yang terdengar lirih suara Rio saat memeluk papa.
Kudekati dua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku
itu.Kutubrukkan tubuhku ke pelukan papa.Kupeluk erat laki-laki paruh
baya itu.Kutenggelamkan tangis kebahagiaanku pada dadanya.Lalu,kutarik
diriku pelan-pelan.
Kulihat Rio sedang mencium tangan mama,dan memeluk mama setelahnya.
Kedekati Rio perlahan,laki-laki itu memandangku hangat,tulus dan
penuh cinta.Dibukakannya bingkisan kotak kecil berwarna hitam yang
disimpan disakunya.Cincin putih bermata berlian warna ungu yang sangat
cantik sedang ada di depanku.Perlahan di raihnya tanganku dan
memasangkannya cincin cantik itu pada jari manisku.Air mata bahagiaku
jatuh tak tertahan.
Kupeluk Rio setelah ia selesai memasangkan cincin."Aku sayang kamu."
ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.Aku hanya mampu menganggukan
kepala dalam pelukannya,sebagai isyarat yang berarti "Aku juga
menyayangimu,Mario Stevano Aditya Haling."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar