Jumat, 10 April 2015

LAMARAN (ff special RiFy)

Langit biru yang cerah mengiringi ceritaku hari ini.Tak ada hujan,tak ada kabut tebal berwarna hitam.Yang ada hanya busa-busa putih yang menggantung indah di langit biru yang cerah.

Laki-laki itu datang kerumah.Dengan sebuket bunga mawar merah dan segenggam keberanian untuk menemui papaku.Entah apa yang akan dilakukannya.Hatiku berdebar tak karuan.Aku begitu takut dia melakukan hal gila atau hal bodoh di depan papaku.Hatiku was-was,namun ditilik dari reaksi tubuhnya yang begitu tenang,hatiku sedikit terasa hangat.

"Silaturrahmi",hanya itu yang dikatakannya ketika aku bertanya apa tujuannya datang kesini dan ingin bertemu papaku.Alasan yang cukup masuk akal,namun tak bisa diterima oleh hatiku.Hatiku ingin penjelasan lebih,namun laki-laki menyebalkan itu tetap bungkam dan hanya menjawab pertanyaanku dengan senyuman.

Hanya berdua di ruang tamu.Tanpa suara,berkecamuk dalam pikiran masing-masing.Tampilannya begitu rapi.Melihatnya memakai setelan kemeja berwarna putih dengan raut muka tegang seperti itu entah mengapa membuatku ingin tertawa sekencang-kencangnya.

Aku memandangnya dengan tatapan aneh.Ingin tertawa melihatnya seperti ini.keningku berkerut dan bibirku menyunggingkan senyum.

"Kenapa?" Tanyanya sambil menoleh ke arahku.
Aku menggelengkan kepala pelan,masih dengan tersenyum kearahnya.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu.Kamu kenapa?aneh tau gak lihat kamu kayak gini." Ucapku santai.
"Nanti juga bakal tau aku kenapa." Ucapnya santai,sambil menyunggingkan senyum teka-teki.
"Aneh." Ucapku sambil memalingkan wajah,lantas mengambil majalah yang ada di atas meja.
"Kamu terus bilang aku aneh.Padahal udah ganteng gini." Ucapnya narsis yang membuatku melengos.
"Cuma tante Rosa yang bilang kamu ganteng,aku mah kagak pernah." Ucapku sambil menjulurkan lidah.
"Berhenti manggil mama dengan sebutan tante deh.Lagian,bentar lagi juga bakal jadi mama kamu." Ucapnya sambil memandang raut mukaku yang mendadak kaku.
"Hah???" Jawabku kaget.
"Hahahaha...." Dia tertawa melihat wajah oonku saat ini.
"Udahh...pergi sana,tuh papa kamu udah mau kesini.Urusan cowok,jadi kamu gak boleh ganggu." Lanjutnya sambil mendorong bahuku.
"Yang punya rumah siapa,yang ngusir siapa." Ucapku ngeledek.
Dia hanya terkekeh melihat bibirku yang mulai manyun akibat ulahnya.
***

Kukuping percakapan dua laki-laki itu bersama mama.

"Apa kabar Mario?" Tanya ayahku memulai percakapan.
"Sangat baik,om apa kabar?sehat?" Jawab sekaligus tanya Rio pada papaku.
"Seperti yang kamu lihat nak,sehat sekali.Papa mamamu bagaimana?sehat?" Tanya papaku lagi.
"Alhamdulillah semua baik om." Jawab Rio ramah.

10 menit berlalu,mereka saling diam.Mungkin bingung ingin membicarakan hal apa dan memulai dari mana.Hatiku entah mengapa ikut was-was melihat raut wajah Rio yang semakin tegang.

"Om..." Kudengar Rio memecah keheningan di ruang tamu.

Satu tarikan nafas panjang terlihat begitu jelas oleh indra penglihatanku.Kugenggam erat jari jemari mamaku.Hatiku berdegub tak karuan,menunggu kata-kata apa yang ingin diucapkan Rio pada papaku.

"Tujuan Rio datang kesini ingin membicarakan sesuatu hal yang menurut Rio sangat penting untuk masa depan Rio.Kehidupan Rio,kebahagiaan Rio dan Kesempurnaan hidup Rio,dan itu semua ada di tangan om hari ini..." Ucapnya tertahan,terlihat menarik nafas panjang sekali lagi.

Kulihat papa menatap rio dengan kening berkerut.Mungkin bingung sekaligus tidak paham dengan apa yang Rio ucapkan barusan."Dasar pria bodoh,mengapa berbelit-belit seperti itu." Ucapku geram dalam hati.

"Sebelumnya maaf kalau Rio mengganggu waktu istirahat om.Tapi sumpah,hari ini Rio telah bertekad ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting pada om.Rio sangat mencintai anak sulung om.Alyssa Saufika Umari..." Ucapnya terhenti.

Aku kaget mendengar ucapan laki-laki menyebalkan itu.Lalu sedetik kemudian tersenyum.Ku genggam semakin erat tangan mamaku.Ku lihat mama yang disampingku juga ikut tersenyum mendengar penuturan Rio.

"Sudah 4 tahun terakhir ini,nama itu yang selalu ada di hati dan juga pikiran Rio,nama anak sulung om.Sepertinya putri kecil om sudah berhasil menguasai seluruh hati dan pikiran Rio.Tapi Rio sama sekali tak keberatan,karena sepertinya Rio benar-benar jatuh cinta pada putri kecil om...."

"Jadi???" Sela papaku.

"Rio mau meminta izin pada om untuk menjadikan Ify gadis terakhir yang akan menemani hidup Rio.Menjadikan anak om sebagai istri dan menjadikan putri om sebagai satu-satunya ratu yang akan mengisi hati Rio...." Ucapan Rio terhenti,terlihat keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Entah mengapa air mataku menyeruak keluar mendengar ucapan Rio pada papaku."Maa..." Ucapku menghadap mama,"Apa ini sebuah lamaran?" Tanyaku pada mama.Hanya senyuman yang menjadi jawaban atas pertanyaanku tadi.Jemari lentiknya mengusap air mataku dengan perlahan.Kupeluk erat mamaku dan kutumpahkan air mata kebahagiaanku dipelukannya.

"Rio berjanji..." Terdengar Rio mulai mengucap isi hatinya pada papa.
"Rio akan membahagiakan Ify.Tak akan ada satupun air mata kesedihan yang keluar dari mata cantik anak sulung om.Sepenuh hati Rio akan membahagiakannya dan menjaganya dari apapun dan siapapun.Kalau suatu saat nanti,ternyata Rio melanggar ucapan janji Rio hari ini,om boleh langsung menghajar atau bahkan membunuh Rio saat itu juga..." Ucapnya yakin.

"Apa ini sebuah lamaran Mario Haling?" Tanya papaku padanya.

"Entah bisa disebut lamaran atau tidak,Rio tak tahu itu.Yang pasti,Rio disini,dihadapan om Ferdi,sekali lagi ingin meminta izin untuk membahagiakan hidup Alyssa Saufika Umari dan akan berjanji menjaganya dari apapun dan siapapun.Apa Om Ferdi mengizinkannya?" Ucap Rio mantap sepenuh hati.

Terlihat papa hanya diam disana,tak membuka mulutnya.Tak memberi jawaban apapun atas segala macam janji sumpah yang diucapkan Rio.

Menit demi menit berlalu,sunyi,sepi dan tak terdengar siapapun yang berbicara.Terlihat Rio semakin tegang disana.Raut mukanya tak bisa terdeskripsikan ekspresinya.

Papa bangkit dari tempat duduknya.Lantas tersenyum seraya berkata "Om mengizinkan,bahagiakan Ify.".Ucapannya yang langsung membuat Rio bangkit dari tempat duduknya.Mendekati papa lantas mencium tangan papa dan memeluk papa erat.Terlihat raut muka bahagia disana,teramat bahagia.Hingga matanya terlihat sedikit berair."Terima kasih om." Hanya itu yang terdengar lirih suara Rio saat memeluk papa.

Kudekati dua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku itu.Kutubrukkan tubuhku ke pelukan papa.Kupeluk erat laki-laki paruh baya itu.Kutenggelamkan tangis kebahagiaanku pada dadanya.Lalu,kutarik diriku pelan-pelan.

Kulihat Rio sedang mencium tangan mama,dan memeluk mama setelahnya.

Kedekati Rio perlahan,laki-laki itu memandangku hangat,tulus dan penuh cinta.Dibukakannya bingkisan kotak kecil berwarna hitam yang disimpan disakunya.Cincin putih bermata berlian warna ungu yang sangat cantik sedang ada di depanku.Perlahan di raihnya tanganku dan memasangkannya cincin cantik itu pada jari manisku.Air mata bahagiaku jatuh tak tertahan.

Kupeluk Rio setelah ia selesai memasangkan cincin."Aku sayang kamu." ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.Aku hanya mampu menganggukan kepala dalam pelukannya,sebagai isyarat yang berarti "Aku juga menyayangimu,Mario Stevano Aditya Haling."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar