Aku pernah mencintaimu,sampai pada titik kegilaanku yang mengabaikan diri sendiri.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak lagi kurasakan sakit yang terus menggerogoti badanku.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak sadar jika aku telah dipermainkan.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak lagi kupikirkan kebahagiaanku sendiri.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak ingin menyadari bahwa bukan hanya aku yang ada di hatimu.
Aku pernah mencintaimu,sampai mataku buta melihat penghianatan itu.
Aku pernah mencintaimu,sampai mengabaikan pemandangan tentangmu yang
tengah menikmati api unggun dengannya,sedangkan aku menunggu
sendiri,menunggu hasil cheuk up ke-5 ku.
Aku pernah mencintaimu,sampai mengabaikan diriku sendiri yang tengah merasakan sakit luar biasa.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak kuceritakan apa yang sedang terjadi padaku.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku buta bahwa sebenarnya sama sekali tak ada pancaran cinta dari matamu.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku lupa caranya bagaimana mencintai diriku sendiri.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku tak bisa berfikir bagaimana kalau sampai aku kehilanganmu.
Aku pernah mencintaimu,dalam pengabaian luar biasa.
Aku pernah mencintaimu,dalam penghianatan yang terlihat mataku berulang-ulang.
Aku pernah mencintaimu,dalam ucapan tulus "aku memaafkan semua kesalahanmu".
Aku pernah mencintaimu,dalam kesabaran yang menunggumu untuk berubah.
Aku pernah mencintaimu,sampai pada akhirnya aku sadar ada lelaki
yang kusebut 'ayah' yang rela pulang dari tempat kerjanya hanya untuk
mengantarku chek up.
Aku pernah mencintaimu,pernah,sangat pernah.Hingga akhirnya aku
sadar,berpisah mungkin akan lebih membebaskanmu dan membuatmu senang
karena tak ada lagi perempuan cerewet yang suka mengeluh apapun padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar