Jumat, 10 April 2015

Secuil Pesan Dari Novel "Catatan Hati Seorang Istri"

Mungkin terlihat aneh untuk sebagian orang ketika melihat mahasiswi semester 4 membaca novel yang berjudul " Catatan Hati Seorang Istri " karya Asma Nadia. Bagaimana tidak terlihat aneh ketika mendapati gadis remaja yang usianya baru akan menginjak 20 tahun itu membaca buku tentang suara hati para istri yang dikemas apik disetiap detail ceritanya.

"Banyak manfaatnya kok." Pembelaan kecil gadis yang sekarang sudah memakai jilbab itu (meskipun belum bisa dikatakan syar'i) ketika banyak teman yang menanyakannya.

Dan dibuku ini,gadis itu menemukan betapa hebat kekuatan para perempuan dalam menghadapi masalah serta rasa sakit yang bisa menghempaskannya kapanpun.
Air mata yang disembunyikan rapi di balik senyum, air mata yang hanya bisa ditumpahkan dalam sujud di sepertiga malam, dan air mata yang sebenarnya tak ingin dibagi pada siapapun.

Dibuku ini tak khayal gadis itu rasanya ingin sekali mencabik dan menonjok beberapa tokoh laki-laki yang entah hatinya terbuat dari apa. Meminta sang perempuan pada orang tuanya dengan bermodal janji indah yang pada kenyataannya menjadi gumpalan asap yang menguap di udara.

Geram, marah, kesal dan sedih ketika melihat perempuan-perempuan itu hanya bisa sabar menghadapi perlakuan tak adil yang menimpanya. Mengapa mereka tak memberikan perlawanan? Pertanyaan yang bisa di dapat jawabannya disetiap jengkal cerita, jawaban yang cukup klise menurut pemikiran gadis itu, jawaban "masih ada hati yang mereka jaga, hati-hati kecil yang masih membutuhkan kasih sayang, bulatan mata mungil yang entah demi apapun tak sanggung mereka sakiti, serta titipan Allah yang harus mereka jaga."

Tidakkah mereka sedikit memikirkan perasaannya sendiri? Membiarkan diri menerima bahagia yang menjadi hak-nya.

Lembar demi lembar semakin membuat gadis itu geram. Ini non fiksi ! Kenyataan pahit yang disebabkan drama para lelaki yang begitu susah menjaga hati. Dan para perempuan itu... Ahh betapa bodoh mereka yang mampu bersikap biasa saja dan hanya mampu menumpahkan air mata ketika sedang bersujud pada-Nya.

Tetapi, pada lembar-lembar berikutnya gadis itu menemukan beberapa cerita yang cukup membuatnya berfikir ulang mengenai -lelaki- di matanya.
Sosok pasangan tua suami-istri yang berboncengan dengan sepeda butut yang dikayuh si kakek secara perlahan,serta tangan sang nenek yang meski penuh dengan kantung-kantung plastik tetapi masih berusaha menggapai pinggang si kakek yang sempat beberapa kali terlepas. Membuat gadis itu sesekali menyunggingkan senyum, membayangkan betapa mesra mereka di usia yang tak muda lagi. Itu adalah cerita pertama yang mampu membuat otaknya berfikir lagi mengenai -lelaki-.

Cerita kedua datang pada sosok Aba Agil, ayah dengan empat orang anak yang beberapa bulan terakhir selalu terlihat murung akibat ditinggal istrinya pergi pada sang pencipta. Sang anak yang mencoba menenangkan hati ayahnya dengan mencarikan sosok -ibu- baru yang dijawab bentakan keras oleh ayahnya. Kemarahan sang ayah yang akhirnya dapat ia temukan dalam alasan penuh cinta "Ibu terlalu bersih (menjaga kehormatannya) dan iklhas untuk saya. Saya tidak mungkin menggantikannya dengan orang lain,Nak."

Serta cerita terakhir, cerita penutup tentang Jidda (sang istri,Saida) dan Jiddi (sang suami, Abdullah). Pasangan yang tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Bahkan ketika jidda menderita penyakit cacar yang kala itu menjadi wabah dan harus diasingkan ketempat lain. Jiddi dengan setia menjenguk istrinya setiap hari dengan mengayuh sepeda yang berjarak lebih dari satu jam. Menemani, menghibur, mendoakan serta menyemangati jidda tak kunjung henti. Dan kala itu, ketika ujian datang, pernikahan yang belum dikaruniai malaikat kecil, obat-obatan cacar yang kata dokter membuat rahim jidda kering, serta rambut jidda yang mulai rontok dan kulit yang penuh jaringan parut pada tubuh jidda, tak khayal membuat jiddi berhenti mencintainya. Ketika jidda sembuh dan diperbolehkan pulang kerumah, jidda dengan heran melihat cermin-cermin di rumahnya berubah menjadi putih karena di cat. Jiddi menjawab kebingungan sikap istrinya tersebut "Saya tidak ridha jika saida diam-diam mencari cermin," katanya. Bahkan jiddi rela tak mematut diri dan memeriksa penampilannya, demi menghindari keterkejutan istri kala memandang wajahnya sendiri.
Beberapa orang menyuruh jiddi untuk menikah lagi, dikarenakan wajah serta kulit jidda sudah tidak seperti dulu dan juga karena mereka belum dikaruniai malaikat-malaikat kecil, memang kala itu seorang ustadz tidaklah aneh jika menikah lagi. Tetapi, dengan lembut jiddi menjawab,
"Ndak. Buat ana Saida ndak berubah. Saida tetap dulu. Afwan, kalau yang berubah adalah akhlaknya, mungkin ana pulangkan kalau ndak berhasil diperingatkan. Kalau hanya karena kulitnya, cinta ana ndak berkurang. Malah tambah." Dan dengan kesabaran, ketulusan, serta cinta kasih mereka lahirlah seorang putra dan enam anak lainnya menyusul lahir kemudian. Tujuh anak dari seorang istri yang dikatakan berahim rendah dan rahim yang telah mengering karena obat-obatan.

Subhanallah....
Semoga cerita yang tertuang di lembar demi lembar ini mampu mengetuk hati siapapun yang membacanya.
Semoga buku ini membuat air mata diam-diam para istri dan ibu tak lagi terdengar lirih.
Dan semoga para suami dan ayah yang membaca buku ini dapat menjaga hati para istri dan ibu dengan cinta yang tak akan pernah menyakiti.
Amiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar