Mungkin terlihat aneh untuk sebagian orang ketika melihat mahasiswi
semester 4 membaca novel yang berjudul " Catatan Hati Seorang Istri "
karya Asma Nadia. Bagaimana tidak terlihat aneh ketika mendapati gadis
remaja yang usianya baru akan menginjak 20 tahun itu membaca buku
tentang suara hati para istri yang dikemas apik disetiap detail
ceritanya.
"Banyak manfaatnya
kok." Pembelaan kecil gadis yang sekarang sudah memakai jilbab itu
(meskipun belum bisa dikatakan syar'i) ketika banyak teman yang
menanyakannya.
Dan dibuku ini,gadis itu menemukan betapa hebat
kekuatan para perempuan dalam menghadapi masalah serta rasa sakit yang
bisa menghempaskannya kapanpun.
Air mata yang disembunyikan rapi di
balik senyum, air mata yang hanya bisa ditumpahkan dalam sujud di
sepertiga malam, dan air mata yang sebenarnya tak ingin dibagi pada
siapapun.
Dibuku ini tak khayal gadis itu rasanya ingin sekali
mencabik dan menonjok beberapa tokoh laki-laki yang entah hatinya
terbuat dari apa. Meminta sang perempuan pada orang tuanya dengan
bermodal janji indah yang pada kenyataannya menjadi gumpalan asap yang
menguap di udara.
Geram, marah, kesal dan sedih ketika melihat
perempuan-perempuan itu hanya bisa sabar menghadapi perlakuan tak adil
yang menimpanya. Mengapa mereka tak memberikan perlawanan? Pertanyaan
yang bisa di dapat jawabannya disetiap jengkal cerita, jawaban yang
cukup klise menurut pemikiran gadis itu, jawaban "masih ada hati yang
mereka jaga, hati-hati kecil yang masih membutuhkan kasih sayang,
bulatan mata mungil yang entah demi apapun tak sanggung mereka sakiti,
serta titipan Allah yang harus mereka jaga."
Tidakkah mereka sedikit memikirkan perasaannya sendiri? Membiarkan diri menerima bahagia yang menjadi hak-nya.
Lembar
demi lembar semakin membuat gadis itu geram. Ini non fiksi ! Kenyataan
pahit yang disebabkan drama para lelaki yang begitu susah menjaga hati.
Dan para perempuan itu... Ahh betapa bodoh mereka yang mampu bersikap
biasa saja dan hanya mampu menumpahkan air mata ketika sedang bersujud
pada-Nya.
Tetapi, pada lembar-lembar berikutnya gadis itu
menemukan beberapa cerita yang cukup membuatnya berfikir ulang mengenai
-lelaki- di matanya.
Sosok pasangan tua suami-istri yang berboncengan
dengan sepeda butut yang dikayuh si kakek secara perlahan,serta tangan
sang nenek yang meski penuh dengan kantung-kantung plastik tetapi masih
berusaha menggapai pinggang si kakek yang sempat beberapa kali terlepas.
Membuat gadis itu sesekali menyunggingkan senyum, membayangkan betapa
mesra mereka di usia yang tak muda lagi. Itu adalah cerita pertama yang
mampu membuat otaknya berfikir lagi mengenai -lelaki-.
Cerita
kedua datang pada sosok Aba Agil, ayah dengan empat orang anak yang
beberapa bulan terakhir selalu terlihat murung akibat ditinggal istrinya
pergi pada sang pencipta. Sang anak yang mencoba menenangkan hati
ayahnya dengan mencarikan sosok -ibu- baru yang dijawab bentakan keras
oleh ayahnya. Kemarahan sang ayah yang akhirnya dapat ia temukan dalam
alasan penuh cinta "Ibu terlalu bersih (menjaga kehormatannya) dan
iklhas untuk saya. Saya tidak mungkin menggantikannya dengan orang
lain,Nak."
Serta cerita terakhir, cerita penutup tentang Jidda
(sang istri,Saida) dan Jiddi (sang suami, Abdullah). Pasangan yang
tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Bahkan ketika jidda menderita
penyakit cacar yang kala itu menjadi wabah dan harus diasingkan ketempat
lain. Jiddi dengan setia menjenguk istrinya setiap hari dengan mengayuh
sepeda yang berjarak lebih dari satu jam. Menemani, menghibur,
mendoakan serta menyemangati jidda tak kunjung henti. Dan kala itu,
ketika ujian datang, pernikahan yang belum dikaruniai malaikat kecil,
obat-obatan cacar yang kata dokter membuat rahim jidda kering, serta
rambut jidda yang mulai rontok dan kulit yang penuh jaringan parut pada
tubuh jidda, tak khayal membuat jiddi berhenti mencintainya. Ketika
jidda sembuh dan diperbolehkan pulang kerumah, jidda dengan heran
melihat cermin-cermin di rumahnya berubah menjadi putih karena di cat.
Jiddi menjawab kebingungan sikap istrinya tersebut "Saya tidak ridha
jika saida diam-diam mencari cermin," katanya. Bahkan jiddi rela tak
mematut diri dan memeriksa penampilannya, demi menghindari keterkejutan
istri kala memandang wajahnya sendiri.
Beberapa orang menyuruh jiddi
untuk menikah lagi, dikarenakan wajah serta kulit jidda sudah tidak
seperti dulu dan juga karena mereka belum dikaruniai malaikat-malaikat
kecil, memang kala itu seorang ustadz tidaklah aneh jika menikah lagi.
Tetapi, dengan lembut jiddi menjawab,
"Ndak. Buat ana Saida ndak
berubah. Saida tetap dulu. Afwan, kalau yang berubah adalah akhlaknya,
mungkin ana pulangkan kalau ndak berhasil diperingatkan. Kalau hanya
karena kulitnya, cinta ana ndak berkurang. Malah tambah." Dan dengan
kesabaran, ketulusan, serta cinta kasih mereka lahirlah seorang putra
dan enam anak lainnya menyusul lahir kemudian. Tujuh anak dari seorang
istri yang dikatakan berahim rendah dan rahim yang telah mengering
karena obat-obatan.
Subhanallah....
Semoga cerita yang tertuang di lembar demi lembar ini mampu mengetuk hati siapapun yang membacanya.
Semoga buku ini membuat air mata diam-diam para istri dan ibu tak lagi terdengar lirih.
Dan
semoga para suami dan ayah yang membaca buku ini dapat menjaga hati
para istri dan ibu dengan cinta yang tak akan pernah menyakiti.
Amiin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar