Aku melihatnya. Entah siapa namanya. Gayanya khas seniman,tak rapi
dengan rambut yang dibiarkan panjang. Entah buku apa lagi yang
dilahapnya kali ini, matanya begitu serius menatap aksara-aksara yang
berteriak ingin dipahami.
Perpustakaan hari ini tak terlalu ramai. Hanya beberapa kursi yang diisi oleh para pecinta fiksi. Sibuk bergelayut dalam angan, membiarkan diri sejenak berkhayal menjadi tokoh utama dalam untaian bermanja kasih sayang.
Aku menuju rak berisikan buku mengenai kesusastraan. Mengambil novel
fiktif secara acak dan kemudian melangkahkan kaki untuk duduk di kursi
yang disediakan,dan kali ini aku akan duduk di sampingnya.
Kulirik wajah yang kuperhatikan sejak tadi dengan ekor mataku. Dan
siluetnya terlihat manis. Begitu manis, dan jantungku entah mengapa
berdegup sangat kencang. Sudah kupotret wajahnya dalam ingatan. Jauh
lebih abadi daripada memotretnya menggunakan ponsel atau kamera berlensa
panjang khas jaman sekarang.
Pura-pura kubuka buku yang sama sekali tak minat kubaca saat ini.
Memandangnya lebih menyenangkan daripada memandang huruf demi huruf yang
dirangkai menjadi janji indah itu. Sesekali kulirik lelaki sedikit
gondrong disebelahku ini. Dan senyum simpul selalu mengikuti setiap
lirikan mataku padanya. Iku tersenyum, bahagia.
"Dik..."
Suara yang terdengar sangat dekat,tapi entah darimana dan untuk siapa.
"Dik..."
Ucapnya lagi.
Aku menoleh kearah sumber suara. Terlihat lelaki itu memandang
kearahku,dengan mata tegas yang seperti menyimpan banyak kerinduan.
"Saya mas?" Tanyaku padanya.
"Iya,kamu." Jawabnya dengan senyum simpul.
"Pengunjung tetap yaa,kok aku sering lihat kamu disini." Tanyanya ramah,dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya.
Aku mengangguk pelan, sebagai jawaban atas pertanyaannya.
" Mario,panggil saja Rio." ucapnya memperkenalkan diri,sambil mengulurkan tangannya.
"Alyssa,tetapi lebih sering dipanggil Ify." Ucapku sambil menyambut uluran tangannya.
Selanjutnya obrolan kecil pun tercipta. Kami membicarakan para
penyair dan novelis terkenal Indonesia. Dan dalam obrolan kecil kami,
satu hal yang sama. Kami sama-sama menyukai penyair Sapardi Djoko
Damono. Puisi-puisinya yang menggetarkan jiwa, sederhana namun menusuk
relung dada.
" Kamu tau gak dik,kata-kata paling romantis di puisinya bapak sapardi apa?" Tanyanya padaku.
"Apa mas?" Timpalku.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan kata yang tak
sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana : dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. " Ucapnya
padaku, mantap, seperti seseorang yang menyatakan cinta pada kekasihnya.
Aku tertegun mendengarnya. Begitu indah.
"Kalau kamu dik?" Tanyanya padaku.
" Kalau aku suka puisinya yang berjudul pada suatu hari nanti mas." Jawabku.
"Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi tapi di dalam
baik-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri" ucapku mengucapkan
bait pertama.
" Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagi tapi diantara
larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati" lanjutmu mengucapkan
bait kedua.
" Pada suatu hari nanti, impianku pun tak dikenal lagi namun
disela-sela huruf sajak ini kau tak akan letih-letihnya ku cari." Ucapku
mengucap bait ketiga,bait terakhir dari puisi yang berjudul Pada Suatu
Hari Nanti.
***
Lamunanku buyar ketika ada yang menyentuh bahuku pelan.
"Fy...." Panggil Shilla,penjaga perpustakaan yang juga sebagai sahabatku itu dengan nada sendu.
" Sudah satu tahun terakhir shill,dan aku merindukannya." Kataku dengan nada sedikit bergetar.
" Dia pasti punya alasan kenapa bisa pergi tanpa meninggalkan pesan." Ucap Shilla padaku.
" Alasan? Alasan yang bagaimana shill? Alasan yang bisa membunuhku
kapan saja karena terus menunggunya. Alasan yang bisa menyakitiku
kapanpun karena aku masih berharap dia kembali padaku, lalu mengucapkan -
april mop -. Alasan yang aku sama sekali gak ngerti kenapa dia bisa
kayak gini, pergi dan hilang tanpa secuil pesan." Tangisku pecah.
" Ify..." Panggil Shilla lalu kemudian merengkuhku hangat,khas seorang sahabat.
Aku tak tahu lagi,apakah harus tetap mempercayai puisi-puisimu dulu?
Puisi yang setiap baitnya selalu bercerita tentang cinta, tentang kamu,
tentang aku, tentang kita.
Dan, diantara rak-rak buku di tempat ini. Di kursi sudut ruangan,
menghadap jam dinding besar yang menunjukkan pukul 2 siang. kau pernah
berbisik lembut padaku. Membisikkan penggalan puisi yang begitu indah
maknanya.
" Yang fana adalah waktu, kita abadi" katamu sambil mengecup keningku pelan.
Dan disini, ditempat yang sama, si tempat duduk yang sama, dan waktu
yang menunjukkan pukul 2 siang. Aku ingin berbisik lembut padamu.
" Aku menunggumu di perpustakaan sudut kota ini mas. Pulanglah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar