Jumat, 10 April 2015

Lelaki Keras Kepalaku Dulu

Aku menuliskannya ditengah pening,mual dan demam yang sedang berlomba-lomba menghancurkan antibodi tubuhku. Berkali-kali mama berteriak agar aku tak menatap laptop terlalu lama dan menyuruhku untuk segera beristirahat, aku hanya menanggapi dengan anggukan pelan, tanpa suara. Mama memarahiku, lalu dengan segala macam alasan akhirnya mama berhenti menyuruhku beristirahat. Yaa,aku berasalan untuk menyelesaikan naskah yang harus kuserahkan pada penerbit secepatnya. Padahal, tak ada satupun naskah yang harus kuselesaikan.

Segala bentuk hutang naskah telah kuselesaikan 2 hari yang lalu. Cukup menguras energiku, bagaimana tidak menguras energiku jika setiap hari aku harus tidur bersamaan dengan terbitnya fajar dipagi hari agar naskah itu cepat terselesaikan.

Aku sungguh ingin tidur, lingkaran mata yang mulai menghitam menandakan aku lelah dan membutuhkan istirahat. Namun, rasa kantuk dan lelah itu tak kunjung membuat mataku terpejam. Rasanya menyebalkan jika harus melihat siluetmu dalam keadaan aku sangat membutuhkan istirahat.

Karena itu berarti, aku akan mulai memikirkanmu lagi, akan memaksa diriku untuk membicarakanmu lagi, akan kembali mengingat segala macam bentuk kenangan kita dulu.

Ahh ya, aku selalu ingat bagaimana ekspresi khawatir itu ketika mengetahui bahwa aku sedang sakit, nada-nada marah sambil menyuapiku bubur ayam, serta tatapan memelas agar aku menuruti setiap perkataan yang katanya "ini demi kebaikan dan kesehatanmu".

Aku sebal ketika kau menyuruhku ini itu untuk menjaga kesehatanku. Lalu bagaimana dengan kesehatanmu sendiri tuan keras kepala? Kau begitu angkuh untuk menuruti perkataanku, ketika aku marah karena melihat kau tumbang dengan selang infus yang terpasang di tangan kirimu, kau malah tersenyum dan bilang "jangan khawatir, aku baik-baik saja". Tuh kan? Kau selalu begitu, bebal dan keras kepala.

Sudah satu tahun semenjak perpisahan kita, dan sudah tujuh bulan terakhir aku tak mendengar kabarmu. Apa kau sehat? Apa kau baik-baik saja? Dan apa kau masih tetap keras kepala?

Aku selalu berharap kau akan membaca setiap tulisan-tulisanku, agar kau mengerti bagaimana sesungguhnya hatiku padamu. Agar kau mengerti bahwa menahan untuk tidak berkata rindu itu membuatku terluka, meski aku tahu setiap abjad yang kutulis tak akan tersentuh indra penglihatanmu, tapi tetap saja aku berharap kau tak sengaja akan membaca tulisanku kali ini.

Ketika kau memutuskan pergi kala itu, aku tak akan memaksamu untuk kembali pulang, kau boleh pulang kemanapun kau ingin. Tapi, ketika sosok yang kau datangi itu malah membuatmu sedih dan terluka. Kau boleh pulang kemari, pintuku masih terbuka lebar untukmu, pintuku masih dan akan selalu siap mendekap kesedihanmu, membasuh peluhmu serta memberikan senyum terbaik ketika kau mengucap kata "maafkan aku."

Ahh sudah, kepalaku semakin terasa pening. Aku akan beristirahat.
Hey, tuan keras kepala ! Aku merindukanmu !




Tertanda,

Gadis galau yang isi twitternya selalu tentangmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar