Aku menuliskannya ditengah pening,mual dan demam yang sedang
berlomba-lomba menghancurkan antibodi tubuhku. Berkali-kali mama
berteriak agar aku tak menatap laptop terlalu lama dan menyuruhku untuk
segera beristirahat, aku hanya menanggapi dengan anggukan pelan, tanpa
suara. Mama memarahiku, lalu dengan segala macam alasan akhirnya mama
berhenti menyuruhku beristirahat.
Yaa,aku berasalan untuk menyelesaikan naskah yang harus kuserahkan pada
penerbit secepatnya. Padahal, tak ada satupun naskah yang harus
kuselesaikan.
Segala bentuk hutang naskah telah kuselesaikan 2 hari yang lalu.
Cukup menguras energiku, bagaimana tidak menguras energiku jika setiap
hari aku harus tidur bersamaan dengan terbitnya fajar dipagi hari agar
naskah itu cepat terselesaikan.
Aku sungguh ingin tidur, lingkaran mata yang mulai menghitam
menandakan aku lelah dan membutuhkan istirahat. Namun, rasa kantuk dan
lelah itu tak kunjung membuat mataku terpejam. Rasanya menyebalkan jika
harus melihat siluetmu dalam keadaan aku sangat membutuhkan istirahat.
Karena itu berarti, aku akan mulai memikirkanmu lagi, akan memaksa
diriku untuk membicarakanmu lagi, akan kembali mengingat segala macam
bentuk kenangan kita dulu.
Ahh ya, aku selalu ingat bagaimana ekspresi khawatir itu ketika
mengetahui bahwa aku sedang sakit, nada-nada marah sambil menyuapiku
bubur ayam, serta tatapan memelas agar aku menuruti setiap perkataan
yang katanya "ini demi kebaikan dan kesehatanmu".
Aku sebal ketika kau menyuruhku ini itu untuk menjaga kesehatanku.
Lalu bagaimana dengan kesehatanmu sendiri tuan keras kepala? Kau begitu
angkuh untuk menuruti perkataanku, ketika aku marah karena melihat kau
tumbang dengan selang infus yang terpasang di tangan kirimu, kau malah
tersenyum dan bilang "jangan khawatir, aku baik-baik saja". Tuh kan? Kau
selalu begitu, bebal dan keras kepala.
Sudah satu tahun semenjak perpisahan kita, dan sudah tujuh bulan
terakhir aku tak mendengar kabarmu. Apa kau sehat? Apa kau baik-baik
saja? Dan apa kau masih tetap keras kepala?
Aku selalu berharap kau akan membaca setiap tulisan-tulisanku, agar
kau mengerti bagaimana sesungguhnya hatiku padamu. Agar kau mengerti
bahwa menahan untuk tidak berkata rindu itu membuatku terluka, meski aku
tahu setiap abjad yang kutulis tak akan tersentuh indra penglihatanmu,
tapi tetap saja aku berharap kau tak sengaja akan membaca tulisanku kali
ini.
Ketika kau memutuskan pergi kala itu, aku tak akan memaksamu untuk
kembali pulang, kau boleh pulang kemanapun kau ingin. Tapi, ketika sosok
yang kau datangi itu malah membuatmu sedih dan terluka. Kau boleh
pulang kemari, pintuku masih terbuka lebar untukmu, pintuku masih dan
akan selalu siap mendekap kesedihanmu, membasuh peluhmu serta memberikan
senyum terbaik ketika kau mengucap kata "maafkan aku."
Ahh sudah, kepalaku semakin terasa pening. Aku akan beristirahat.
Hey, tuan keras kepala ! Aku merindukanmu !
Tertanda,
Gadis galau yang isi twitternya selalu tentangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar