Mungkin terlihat aneh untuk sebagian orang ketika melihat mahasiswi
semester 4 membaca novel yang berjudul " Catatan Hati Seorang Istri "
karya Asma Nadia. Bagaimana tidak terlihat aneh ketika mendapati gadis
remaja yang usianya baru akan menginjak 20 tahun itu membaca buku
tentang suara hati para istri yang dikemas apik disetiap detail
ceritanya.
"Banyak manfaatnya
kok." Pembelaan kecil gadis yang sekarang sudah memakai jilbab itu
(meskipun belum bisa dikatakan syar'i) ketika banyak teman yang
menanyakannya.
Dan dibuku ini,gadis itu menemukan betapa hebat
kekuatan para perempuan dalam menghadapi masalah serta rasa sakit yang
bisa menghempaskannya kapanpun.
Air mata yang disembunyikan rapi di
balik senyum, air mata yang hanya bisa ditumpahkan dalam sujud di
sepertiga malam, dan air mata yang sebenarnya tak ingin dibagi pada
siapapun.
Dibuku ini tak khayal gadis itu rasanya ingin sekali
mencabik dan menonjok beberapa tokoh laki-laki yang entah hatinya
terbuat dari apa. Meminta sang perempuan pada orang tuanya dengan
bermodal janji indah yang pada kenyataannya menjadi gumpalan asap yang
menguap di udara.
Geram, marah, kesal dan sedih ketika melihat
perempuan-perempuan itu hanya bisa sabar menghadapi perlakuan tak adil
yang menimpanya. Mengapa mereka tak memberikan perlawanan? Pertanyaan
yang bisa di dapat jawabannya disetiap jengkal cerita, jawaban yang
cukup klise menurut pemikiran gadis itu, jawaban "masih ada hati yang
mereka jaga, hati-hati kecil yang masih membutuhkan kasih sayang,
bulatan mata mungil yang entah demi apapun tak sanggung mereka sakiti,
serta titipan Allah yang harus mereka jaga."
Tidakkah mereka sedikit memikirkan perasaannya sendiri? Membiarkan diri menerima bahagia yang menjadi hak-nya.
Lembar
demi lembar semakin membuat gadis itu geram. Ini non fiksi ! Kenyataan
pahit yang disebabkan drama para lelaki yang begitu susah menjaga hati.
Dan para perempuan itu... Ahh betapa bodoh mereka yang mampu bersikap
biasa saja dan hanya mampu menumpahkan air mata ketika sedang bersujud
pada-Nya.
Tetapi, pada lembar-lembar berikutnya gadis itu
menemukan beberapa cerita yang cukup membuatnya berfikir ulang mengenai
-lelaki- di matanya.
Sosok pasangan tua suami-istri yang berboncengan
dengan sepeda butut yang dikayuh si kakek secara perlahan,serta tangan
sang nenek yang meski penuh dengan kantung-kantung plastik tetapi masih
berusaha menggapai pinggang si kakek yang sempat beberapa kali terlepas.
Membuat gadis itu sesekali menyunggingkan senyum, membayangkan betapa
mesra mereka di usia yang tak muda lagi. Itu adalah cerita pertama yang
mampu membuat otaknya berfikir lagi mengenai -lelaki-.
Cerita
kedua datang pada sosok Aba Agil, ayah dengan empat orang anak yang
beberapa bulan terakhir selalu terlihat murung akibat ditinggal istrinya
pergi pada sang pencipta. Sang anak yang mencoba menenangkan hati
ayahnya dengan mencarikan sosok -ibu- baru yang dijawab bentakan keras
oleh ayahnya. Kemarahan sang ayah yang akhirnya dapat ia temukan dalam
alasan penuh cinta "Ibu terlalu bersih (menjaga kehormatannya) dan
iklhas untuk saya. Saya tidak mungkin menggantikannya dengan orang
lain,Nak."
Serta cerita terakhir, cerita penutup tentang Jidda
(sang istri,Saida) dan Jiddi (sang suami, Abdullah). Pasangan yang
tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Bahkan ketika jidda menderita
penyakit cacar yang kala itu menjadi wabah dan harus diasingkan ketempat
lain. Jiddi dengan setia menjenguk istrinya setiap hari dengan mengayuh
sepeda yang berjarak lebih dari satu jam. Menemani, menghibur,
mendoakan serta menyemangati jidda tak kunjung henti. Dan kala itu,
ketika ujian datang, pernikahan yang belum dikaruniai malaikat kecil,
obat-obatan cacar yang kata dokter membuat rahim jidda kering, serta
rambut jidda yang mulai rontok dan kulit yang penuh jaringan parut pada
tubuh jidda, tak khayal membuat jiddi berhenti mencintainya. Ketika
jidda sembuh dan diperbolehkan pulang kerumah, jidda dengan heran
melihat cermin-cermin di rumahnya berubah menjadi putih karena di cat.
Jiddi menjawab kebingungan sikap istrinya tersebut "Saya tidak ridha
jika saida diam-diam mencari cermin," katanya. Bahkan jiddi rela tak
mematut diri dan memeriksa penampilannya, demi menghindari keterkejutan
istri kala memandang wajahnya sendiri.
Beberapa orang menyuruh jiddi
untuk menikah lagi, dikarenakan wajah serta kulit jidda sudah tidak
seperti dulu dan juga karena mereka belum dikaruniai malaikat-malaikat
kecil, memang kala itu seorang ustadz tidaklah aneh jika menikah lagi.
Tetapi, dengan lembut jiddi menjawab,
"Ndak. Buat ana Saida ndak
berubah. Saida tetap dulu. Afwan, kalau yang berubah adalah akhlaknya,
mungkin ana pulangkan kalau ndak berhasil diperingatkan. Kalau hanya
karena kulitnya, cinta ana ndak berkurang. Malah tambah." Dan dengan
kesabaran, ketulusan, serta cinta kasih mereka lahirlah seorang putra
dan enam anak lainnya menyusul lahir kemudian. Tujuh anak dari seorang
istri yang dikatakan berahim rendah dan rahim yang telah mengering
karena obat-obatan.
Subhanallah....
Semoga cerita yang tertuang di lembar demi lembar ini mampu mengetuk hati siapapun yang membacanya.
Semoga buku ini membuat air mata diam-diam para istri dan ibu tak lagi terdengar lirih.
Dan
semoga para suami dan ayah yang membaca buku ini dapat menjaga hati
para istri dan ibu dengan cinta yang tak akan pernah menyakiti.
Amiin...
Jumat, 10 April 2015
Pacar Dunia Akhirat
Terima kasih kupersembahkan khusus untukmu.Terima kasih untuk cinta dan kasihmu yang teramat begitu besar untukku.
"Aku mencintaimu" dan aku yakin engkau sangat mengetahui itu.Aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi siapapun di dunia ini.
Maaf,jika sikap manjaku selama ini membuatmu lelah menghadapinya.Aku tahu,aku sangat kurang jauh jika dikata manusia sempurna.Tapi entah mengapa,aku selalu menjadi satu-satunya perempuan kecil yang paling sempurna dimatamu.Kau memanjakanku dengan segala macam usaha yang bahkan sangat diluar batas kemampuan manusia pada umumnya."Kau ingin melihatku bahagia",hanya itu alasan sederhana yang dapat membuatmu rela menyerahkan seluruh hidupmu untuk kebahagiaanku.
Mungkin jika kupinta gunung pun,dengan segenap hati dan segenap rasa ingin membahagiakanku,engkau akan menurutinya.Dengan kekuatan luar biasa kau akan membawakannya untukku.Mempersembahkan bukti cintamu untuk perempuan kecil yang kau cintai ini.
Aku begitu ingat,ketika raut muka tegas itu berubah khawatir dan sedikit sendu karena melihatku merasakan sakit luar biasa pada ulu hatiku.Aku juga begitu ingat,ketika ada yang tidak beres dengan kesehatanku,engkau rela tidak masuk kerja beberapa hari hanya untuk menemaniku berobat jalan di Rumah sakit.Diam-diam aku sering melihatmu menitikan air mata,karena engkau tau,perempuan kecilmu ini begitu sering masuk Rumah sakit.Entah harus dirawat inap ataupun dirawat jalan.Entah hanya melakukan pemeriksaan labolatorium atau harus melakukan operasi karena patah tulang.
Cintamu begitu besar untukku,dan aku sering mengabaikan itu,Maaf.Maaf jika aku terlalu menggebu-nggebu ingin memperjuangkan laki-lakiku yang lain,dan sering melupakan perjuangan hebatmu untuk kebahagiaanku selama ini.Maaf karena aku juga terlalu menjunjung tinggi laki-lakiku yang lain,dan terlalu buta melihat cintamu selama ini.Dan kini kusadari,hanya kau yang terbaik,terindah dan terhebat yang pernah mengisi hidup dan hatiku selama ini.Kau sempurna.
Kau tahu?Laki-lakiku yang lain kini telah menyakitiku.Membuatku meneteskan air mata dan menggores luka,hingga aku terus menangisi kepergiaannya.Dan aku telah menangisi laki-laki lain di hadapmu,meminta pelukan darimu.Dan tangan kekarmu itu,memberikanku kehangatan dalam setiap balut pelukmu.Begitu ikhlas dan sabar dalam membasuh setiap air mataku.
Kau bilang,aku harus berhati-hati dalam mencari lelaki yang berjanji akan setia menemani masa tuaku kelak.Kau takut aku menangis,kau takut aku terluka dan kau bahkan tak sungkan bilang bahwa kau takut perempuan kecilmu ini tak lagi bisa tertawa dan kehilangan kebahagiaannya.
Aku meneteskan air mataku tak sungkan didepanmu.Mencurahkan segala ungkapan cintaku padamu.Aku ingin kau mengerti,bahwa cintamu yang sedalam dan sebesar itu adalah kekuatan terhebat dalam mengatasi problema hidupku.
Terima kasih dan aku mencintaimu,sangat mencintaimu,sangat sangat sangat mencintaimu.
Jadi Ayah,bisakah aku menyebutmu sebagai pacar dunia akhiratku?
"Aku mencintaimu" dan aku yakin engkau sangat mengetahui itu.Aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi siapapun di dunia ini.
Maaf,jika sikap manjaku selama ini membuatmu lelah menghadapinya.Aku tahu,aku sangat kurang jauh jika dikata manusia sempurna.Tapi entah mengapa,aku selalu menjadi satu-satunya perempuan kecil yang paling sempurna dimatamu.Kau memanjakanku dengan segala macam usaha yang bahkan sangat diluar batas kemampuan manusia pada umumnya."Kau ingin melihatku bahagia",hanya itu alasan sederhana yang dapat membuatmu rela menyerahkan seluruh hidupmu untuk kebahagiaanku.
Mungkin jika kupinta gunung pun,dengan segenap hati dan segenap rasa ingin membahagiakanku,engkau akan menurutinya.Dengan kekuatan luar biasa kau akan membawakannya untukku.Mempersembahkan bukti cintamu untuk perempuan kecil yang kau cintai ini.
Aku begitu ingat,ketika raut muka tegas itu berubah khawatir dan sedikit sendu karena melihatku merasakan sakit luar biasa pada ulu hatiku.Aku juga begitu ingat,ketika ada yang tidak beres dengan kesehatanku,engkau rela tidak masuk kerja beberapa hari hanya untuk menemaniku berobat jalan di Rumah sakit.Diam-diam aku sering melihatmu menitikan air mata,karena engkau tau,perempuan kecilmu ini begitu sering masuk Rumah sakit.Entah harus dirawat inap ataupun dirawat jalan.Entah hanya melakukan pemeriksaan labolatorium atau harus melakukan operasi karena patah tulang.
Cintamu begitu besar untukku,dan aku sering mengabaikan itu,Maaf.Maaf jika aku terlalu menggebu-nggebu ingin memperjuangkan laki-lakiku yang lain,dan sering melupakan perjuangan hebatmu untuk kebahagiaanku selama ini.Maaf karena aku juga terlalu menjunjung tinggi laki-lakiku yang lain,dan terlalu buta melihat cintamu selama ini.Dan kini kusadari,hanya kau yang terbaik,terindah dan terhebat yang pernah mengisi hidup dan hatiku selama ini.Kau sempurna.
Kau tahu?Laki-lakiku yang lain kini telah menyakitiku.Membuatku meneteskan air mata dan menggores luka,hingga aku terus menangisi kepergiaannya.Dan aku telah menangisi laki-laki lain di hadapmu,meminta pelukan darimu.Dan tangan kekarmu itu,memberikanku kehangatan dalam setiap balut pelukmu.Begitu ikhlas dan sabar dalam membasuh setiap air mataku.
Kau bilang,aku harus berhati-hati dalam mencari lelaki yang berjanji akan setia menemani masa tuaku kelak.Kau takut aku menangis,kau takut aku terluka dan kau bahkan tak sungkan bilang bahwa kau takut perempuan kecilmu ini tak lagi bisa tertawa dan kehilangan kebahagiaannya.
Aku meneteskan air mataku tak sungkan didepanmu.Mencurahkan segala ungkapan cintaku padamu.Aku ingin kau mengerti,bahwa cintamu yang sedalam dan sebesar itu adalah kekuatan terhebat dalam mengatasi problema hidupku.
Terima kasih dan aku mencintaimu,sangat mencintaimu,sangat sangat sangat mencintaimu.
Jadi Ayah,bisakah aku menyebutmu sebagai pacar dunia akhiratku?
Cermin !!!
Lihat dia yang ada di depanmu.Tubuh yang berdiri tepat di
hadapanmu.Tatapan kosong yang memandang matamu tegas.Terlihat tegar
namun penuh luka,Kuat namun rapuh.
Lihat dia! Betapa sebenarnya dia ingin marah pada keadaan.Tubuhnya yang menolak sentuhan sebenarnya sangat ingin dekapan.Bibir yang penuh senyuman sebenarnya menyimpan keluh kesah dengan amarah yang ingin mengucap sumpah serapah pada Tuhan.
Lihat dia ! Pandang dengan lebih jelas lagi.Tatap sorot matanya yang tajam itu,lihat betapa sorot mata itu menyimpan kepedihan yang mendalam.Berjuta-juta abjad kesedihan dan air mata masih tersimpan rapi,terlalu gengsi untuk diperlihatkan.
Ayo,pandang dia lebih jelas lagi ! Betapa tubuh dihadapanmu itu penuh luka yang ditutupi dengan bahagia pura-pura.Betapa tangan ringkih yang setia mendekap siapapun yang meminta bantuannya itu sebenarnya sangat ingin digenggam hangat.
Masih belum yakin?Lihat lagi,ayo lebih jelas lagi! Tubuh itu,tubuh dihadapanmu itu terlalu naif mengakui rasa sakitnya.Terlalu gengsi mengeluarkan air matanya.Terlalu wonder woman untuk ukuran manusia.
Dia tak peduli rasa sakitnya.Dia terlalu mengabaikan kebahagiaannya,dan dia...Dia terlalu berjuang untuk sesuatu yang hanya menghasilkan luka.
Bahkan,dia tetap tak peduli.Ketika sahabatnya memergokinya tengah menahan tangis sendirian.Tetap bungkam dan enggan menceritakan apa yang dia rasa pada siapapun.Tetap tak ingin menangis.Meski sahabatnya berucap "Rasa sakit hati itu kamu yang merasakannya sendiri,tidak seperti matahari yang dapat dirasakan semua orang".Dia tetap tak ingin menangis.
Betapa egois seseorang dihadapanmu sekarang?Betapa dia ingin orang yang disayang bahagia tanpa peduli pada kebahagiaannya sendiri.Betapa sebenarnya dia ingin marah,menggunjing,mencaci dan menyumpah separahi semua orang yang menyakitinya.Betapa ingin dia melakukan semua itu!!!
Bahkan kau tak tahu kan?Betapa ingin aku membunuh orang dihadapanmu itu sekarang.Aku begitu benci sifat baikknya,aku begitu benci ketika dia sangat mudah dibohongi dan dipermainkan oleh orang lain.Dan betapa muaknya aku ketika dia yang berdiri dihadapanmu itu dengan tulus memaafkan kesalahan mereka,para pecundang itu.
Kenapa dia menangis sekarang ! Tubuh ringkih dihadapanmu sedang menangis sekarang! Disaat aku bahkan sama sekali tak ingin mendekapnya.Disaat aku sudah terlalu lelah menjadi tumpuan hidupnya.
Aku hanya seonggok daging yang dipanggil "hati" oleh manusia.Organ paling sensitif yang mudah tergores luka.Organ yang selalu didengar manusia apapun yang diucapkannya.Tapi apa yang dilakukan manusia yang tengah berdiri tepat di depanmu itu?Aku selalu diajaknya menahan luka,membiarkan diriku terbentur hingga lebam dimana-mana.Tak pernah didengarkan dan selalu memaksaku untuk ikut berjuang.
Dia,bayangan yang ada di cermin itu bukan kau! Topeng yang memasang senyuman itu sangat ingin aku musnahkan.Aku ingin engkau,bukan bayanganmu yang tengah tersenyum bahagia di cermin itu.
Aku hati manusia biasa.Bukan sosok wonder woman yang tengah terpantul dalam cermin dihadapan kita.
Aku ingin kau menangis,aku ingin kau mencaci.Bukan diam dan seolah-olah tak pernah ada yang tersakiti.
Aku hatimu,satu-satunya sesuatu yang tak akan pernah meninggalkanmu.Sesuatu yang selalu ingin memelukmu.Menenangkan hatimu,dan tak akan pernah membiarkanmu sendiri.Jadi kumohon,berhenti dan lepaskan topeng senyuman itu.
Aku ingin dirimu,bukan bayanganmu dalam cermin itu.
Lihat dia! Betapa sebenarnya dia ingin marah pada keadaan.Tubuhnya yang menolak sentuhan sebenarnya sangat ingin dekapan.Bibir yang penuh senyuman sebenarnya menyimpan keluh kesah dengan amarah yang ingin mengucap sumpah serapah pada Tuhan.
Lihat dia ! Pandang dengan lebih jelas lagi.Tatap sorot matanya yang tajam itu,lihat betapa sorot mata itu menyimpan kepedihan yang mendalam.Berjuta-juta abjad kesedihan dan air mata masih tersimpan rapi,terlalu gengsi untuk diperlihatkan.
Ayo,pandang dia lebih jelas lagi ! Betapa tubuh dihadapanmu itu penuh luka yang ditutupi dengan bahagia pura-pura.Betapa tangan ringkih yang setia mendekap siapapun yang meminta bantuannya itu sebenarnya sangat ingin digenggam hangat.
Masih belum yakin?Lihat lagi,ayo lebih jelas lagi! Tubuh itu,tubuh dihadapanmu itu terlalu naif mengakui rasa sakitnya.Terlalu gengsi mengeluarkan air matanya.Terlalu wonder woman untuk ukuran manusia.
Dia tak peduli rasa sakitnya.Dia terlalu mengabaikan kebahagiaannya,dan dia...Dia terlalu berjuang untuk sesuatu yang hanya menghasilkan luka.
Bahkan,dia tetap tak peduli.Ketika sahabatnya memergokinya tengah menahan tangis sendirian.Tetap bungkam dan enggan menceritakan apa yang dia rasa pada siapapun.Tetap tak ingin menangis.Meski sahabatnya berucap "Rasa sakit hati itu kamu yang merasakannya sendiri,tidak seperti matahari yang dapat dirasakan semua orang".Dia tetap tak ingin menangis.
Betapa egois seseorang dihadapanmu sekarang?Betapa dia ingin orang yang disayang bahagia tanpa peduli pada kebahagiaannya sendiri.Betapa sebenarnya dia ingin marah,menggunjing,mencaci dan menyumpah separahi semua orang yang menyakitinya.Betapa ingin dia melakukan semua itu!!!
Bahkan kau tak tahu kan?Betapa ingin aku membunuh orang dihadapanmu itu sekarang.Aku begitu benci sifat baikknya,aku begitu benci ketika dia sangat mudah dibohongi dan dipermainkan oleh orang lain.Dan betapa muaknya aku ketika dia yang berdiri dihadapanmu itu dengan tulus memaafkan kesalahan mereka,para pecundang itu.
Kenapa dia menangis sekarang ! Tubuh ringkih dihadapanmu sedang menangis sekarang! Disaat aku bahkan sama sekali tak ingin mendekapnya.Disaat aku sudah terlalu lelah menjadi tumpuan hidupnya.
Aku hanya seonggok daging yang dipanggil "hati" oleh manusia.Organ paling sensitif yang mudah tergores luka.Organ yang selalu didengar manusia apapun yang diucapkannya.Tapi apa yang dilakukan manusia yang tengah berdiri tepat di depanmu itu?Aku selalu diajaknya menahan luka,membiarkan diriku terbentur hingga lebam dimana-mana.Tak pernah didengarkan dan selalu memaksaku untuk ikut berjuang.
Dia,bayangan yang ada di cermin itu bukan kau! Topeng yang memasang senyuman itu sangat ingin aku musnahkan.Aku ingin engkau,bukan bayanganmu yang tengah tersenyum bahagia di cermin itu.
Aku hati manusia biasa.Bukan sosok wonder woman yang tengah terpantul dalam cermin dihadapan kita.
Aku ingin kau menangis,aku ingin kau mencaci.Bukan diam dan seolah-olah tak pernah ada yang tersakiti.
Aku hatimu,satu-satunya sesuatu yang tak akan pernah meninggalkanmu.Sesuatu yang selalu ingin memelukmu.Menenangkan hatimu,dan tak akan pernah membiarkanmu sendiri.Jadi kumohon,berhenti dan lepaskan topeng senyuman itu.
Aku ingin dirimu,bukan bayanganmu dalam cermin itu.
Aku Pernah
Aku pernah mencintaimu,sampai pada titik kegilaanku yang mengabaikan diri sendiri.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak lagi kurasakan sakit yang terus menggerogoti badanku.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak sadar jika aku telah dipermainkan.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak lagi kupikirkan kebahagiaanku sendiri.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak ingin menyadari bahwa bukan hanya aku yang ada di hatimu.
Aku pernah mencintaimu,sampai mataku buta melihat penghianatan itu.
Aku pernah mencintaimu,sampai mengabaikan pemandangan tentangmu yang tengah menikmati api unggun dengannya,sedangkan aku menunggu sendiri,menunggu hasil cheuk up ke-5 ku.
Aku pernah mencintaimu,sampai mengabaikan diriku sendiri yang tengah merasakan sakit luar biasa.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak kuceritakan apa yang sedang terjadi padaku.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku buta bahwa sebenarnya sama sekali tak ada pancaran cinta dari matamu.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku lupa caranya bagaimana mencintai diriku sendiri.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku tak bisa berfikir bagaimana kalau sampai aku kehilanganmu.
Aku pernah mencintaimu,dalam pengabaian luar biasa.
Aku pernah mencintaimu,dalam penghianatan yang terlihat mataku berulang-ulang.
Aku pernah mencintaimu,dalam ucapan tulus "aku memaafkan semua kesalahanmu".
Aku pernah mencintaimu,dalam kesabaran yang menunggumu untuk berubah.
Aku pernah mencintaimu,sampai pada akhirnya aku sadar ada lelaki yang kusebut 'ayah' yang rela pulang dari tempat kerjanya hanya untuk mengantarku chek up.
Aku pernah mencintaimu,pernah,sangat pernah.Hingga akhirnya aku sadar,berpisah mungkin akan lebih membebaskanmu dan membuatmu senang karena tak ada lagi perempuan cerewet yang suka mengeluh apapun padamu.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak lagi kurasakan sakit yang terus menggerogoti badanku.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak sadar jika aku telah dipermainkan.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak lagi kupikirkan kebahagiaanku sendiri.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak ingin menyadari bahwa bukan hanya aku yang ada di hatimu.
Aku pernah mencintaimu,sampai mataku buta melihat penghianatan itu.
Aku pernah mencintaimu,sampai mengabaikan pemandangan tentangmu yang tengah menikmati api unggun dengannya,sedangkan aku menunggu sendiri,menunggu hasil cheuk up ke-5 ku.
Aku pernah mencintaimu,sampai mengabaikan diriku sendiri yang tengah merasakan sakit luar biasa.
Aku pernah mencintaimu,sampai tak kuceritakan apa yang sedang terjadi padaku.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku buta bahwa sebenarnya sama sekali tak ada pancaran cinta dari matamu.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku lupa caranya bagaimana mencintai diriku sendiri.
Aku pernah mencintaimu,sampai aku tak bisa berfikir bagaimana kalau sampai aku kehilanganmu.
Aku pernah mencintaimu,dalam pengabaian luar biasa.
Aku pernah mencintaimu,dalam penghianatan yang terlihat mataku berulang-ulang.
Aku pernah mencintaimu,dalam ucapan tulus "aku memaafkan semua kesalahanmu".
Aku pernah mencintaimu,dalam kesabaran yang menunggumu untuk berubah.
Aku pernah mencintaimu,sampai pada akhirnya aku sadar ada lelaki yang kusebut 'ayah' yang rela pulang dari tempat kerjanya hanya untuk mengantarku chek up.
Aku pernah mencintaimu,pernah,sangat pernah.Hingga akhirnya aku sadar,berpisah mungkin akan lebih membebaskanmu dan membuatmu senang karena tak ada lagi perempuan cerewet yang suka mengeluh apapun padamu.
Sakit, Naskah dan Kamu !!
Sudah lama aku tak memandang kertas polos yang merintih ingin disentuh
tinta.Sudah lama rasanya tak lagi bergelut dengan dunia khayal yang
penuh bahagia.Dan sudah lama kamu terlalu menyandera hidup serta hatiku
pula.
Perpisahan kita kala itu memang memberikan energi tersendiri buatku.Energi yang membuatku semakin cengeng.Namun,cengeng yang beralasan.Ah,tetap saja aku masih membelamu.Sejauh apapun otakku mencaci maki perlakuanmu padaku.
Kupikir gadis sepertiku takkan remuk begitu saja hanya karena putus cinta.Terdengar sangat aneh memang,aku terlalu tumbang dipelukanmu yang hangat itu,sehingga membuatku susah untuk bangkit dan menatap matahari.
Entah sudah berapa lama aku menikmati hidup tanpa sapaan selamat pagi darimu.Entah sudah berapa lama aku masih baik-baik saja walaupun tak ada panggilan sayang dan kata-kata manis dari bibirmu seperti dulu.Kau bisa lihat aku sekarang,sudah cukup kuat untuk hidup tanpamu.Meski beberapa kali masih sering menangis untukmu,tapi setidaknya semua ini tidak sesering dulu.
Oh ya,aku lihat kini kau sudah jauh lebih bahagia.Entahlah,mungkin bidadarimu terlalu hangat untukmu dibanding dengan diriku dulu.Aku tak iri,aku bahagia dapat melihatmu bahagia.Meski sedikit rasa sakit masih sering membuahkan tangis untukku,tapi aku sudah sangat bisa mengatasi itu.
Disaat aku sedang menulis ini,flu berat sedang menyerangku.Badanku meriang sejak semalam dan sepertinya gastritisku juga ikut kambuh,menambah rasa perih pada bagian kiri atas perutku.Mama sudah menyuruhku berhenti menatap laptop sedari tadi.Tapi entah mengapa menulis tentangmu membuatku dapat sedikit melupakan rasa sakitku.
Disela-sela tulisan ini kuketik,sebenarnya ada naskah yang harus kuselesaikan secepatnya.Tetapi menatap naskah semakin membuatku mual,jadi aku memutuskan untuk memutar lagu kenangan kita dan menulis apapun tentangmu.Dan sepertinya ini benar-benar ampuh untuk mengurangi rasa tidak enak pada badanku.
Aku tak memintamu menjengukku,juga tak memintamu mendoakan kesehatanku.Bukan karena apa-apa,tapi karena kini aku bukan lagi orang yang harus kau sebut dalam doa-doamu.Mungkin ini akan terasa sedikit aneh dalam hidupku,tapi bukankah cepat atau lambat aku harus mempelajari hal-hal aneh seperti ini,seperti harus terbiasa tanpamu misalnya.
Lagu yang kuputar lewat laptopku semakin terdengar berbisik dan begitu lirih.Kupegang keningku dan terasa semakin hangat.Kusesap teh buatan mama,terasa hambar dan pahit ketika bersentuhan dengan indera pengecapku.
Ahh,hidungku semakin mampet dan kepalaku semakin pening.Mungkin ini karena aku tidak tidur semalaman.Mengerjakan naskah-naskah yang belum tersentuh tangan,juga mengerjakan tulisan-tulisan yang akan ku beri padamu.Semacam diary cacatan tentang kebersamaan kita dulu.
Aku bukan penulis handal,hanya saja aku gemar menulis kebersamaan kita dulu.Bahkan,gemar juga menulis tentang perpisahan kita sekarang.Ini bukan curahan hati gadis gagal move on,ini hanya selingan cerita disaat sakit yang semakin menyiksaku,naskah yang meronta ingin diselesaikan,dan kamu yang semakin aku rindukan.
Tertanda,
Gadis dimasa lalumu yang begitu pintar menyembunyikan namamu,hingga nyaris tak tercium oleh siapapun.
Perpisahan kita kala itu memang memberikan energi tersendiri buatku.Energi yang membuatku semakin cengeng.Namun,cengeng yang beralasan.Ah,tetap saja aku masih membelamu.Sejauh apapun otakku mencaci maki perlakuanmu padaku.
Kupikir gadis sepertiku takkan remuk begitu saja hanya karena putus cinta.Terdengar sangat aneh memang,aku terlalu tumbang dipelukanmu yang hangat itu,sehingga membuatku susah untuk bangkit dan menatap matahari.
Entah sudah berapa lama aku menikmati hidup tanpa sapaan selamat pagi darimu.Entah sudah berapa lama aku masih baik-baik saja walaupun tak ada panggilan sayang dan kata-kata manis dari bibirmu seperti dulu.Kau bisa lihat aku sekarang,sudah cukup kuat untuk hidup tanpamu.Meski beberapa kali masih sering menangis untukmu,tapi setidaknya semua ini tidak sesering dulu.
Oh ya,aku lihat kini kau sudah jauh lebih bahagia.Entahlah,mungkin bidadarimu terlalu hangat untukmu dibanding dengan diriku dulu.Aku tak iri,aku bahagia dapat melihatmu bahagia.Meski sedikit rasa sakit masih sering membuahkan tangis untukku,tapi aku sudah sangat bisa mengatasi itu.
Disaat aku sedang menulis ini,flu berat sedang menyerangku.Badanku meriang sejak semalam dan sepertinya gastritisku juga ikut kambuh,menambah rasa perih pada bagian kiri atas perutku.Mama sudah menyuruhku berhenti menatap laptop sedari tadi.Tapi entah mengapa menulis tentangmu membuatku dapat sedikit melupakan rasa sakitku.
Disela-sela tulisan ini kuketik,sebenarnya ada naskah yang harus kuselesaikan secepatnya.Tetapi menatap naskah semakin membuatku mual,jadi aku memutuskan untuk memutar lagu kenangan kita dan menulis apapun tentangmu.Dan sepertinya ini benar-benar ampuh untuk mengurangi rasa tidak enak pada badanku.
Aku tak memintamu menjengukku,juga tak memintamu mendoakan kesehatanku.Bukan karena apa-apa,tapi karena kini aku bukan lagi orang yang harus kau sebut dalam doa-doamu.Mungkin ini akan terasa sedikit aneh dalam hidupku,tapi bukankah cepat atau lambat aku harus mempelajari hal-hal aneh seperti ini,seperti harus terbiasa tanpamu misalnya.
Lagu yang kuputar lewat laptopku semakin terdengar berbisik dan begitu lirih.Kupegang keningku dan terasa semakin hangat.Kusesap teh buatan mama,terasa hambar dan pahit ketika bersentuhan dengan indera pengecapku.
Ahh,hidungku semakin mampet dan kepalaku semakin pening.Mungkin ini karena aku tidak tidur semalaman.Mengerjakan naskah-naskah yang belum tersentuh tangan,juga mengerjakan tulisan-tulisan yang akan ku beri padamu.Semacam diary cacatan tentang kebersamaan kita dulu.
Aku bukan penulis handal,hanya saja aku gemar menulis kebersamaan kita dulu.Bahkan,gemar juga menulis tentang perpisahan kita sekarang.Ini bukan curahan hati gadis gagal move on,ini hanya selingan cerita disaat sakit yang semakin menyiksaku,naskah yang meronta ingin diselesaikan,dan kamu yang semakin aku rindukan.
Tertanda,
Gadis dimasa lalumu yang begitu pintar menyembunyikan namamu,hingga nyaris tak tercium oleh siapapun.
Mereka Dan Laki-Lakinya
Ketika mereka berbicara "Laki-lakiku adalah makhluk paling romantis
dengan sebuket bunga di setiap harinya" dengan senyum aku membalas "Dan
laki-lakiku adalah makhluk yang aku percaya akan memikirkan diriku di
sepanjang harinya."
Ketika mereka bertanya "Apa yang dimiliki laki-lakimu yang tidak dimiliki laki-laki lain?" dengan bangga aku berkata "Getaran hangat yang menjalar di seluruh badan saat menatap mata teduhnya."
Ketika mereka berbicara "Dia bilang kau istimewa untuknya,tapi mengapa hobinya membuatmu meneteskan air mata?" dan untuk kesekian kalinya aku menjawab dengan senyuman tulus "Karena ketika perempuan telah menangis untuk laki-lakinya,itu pertanda bahwa laki-laki itu sangat berharga untuk hidupnya."
Ketika dengan angkuh mereka mengeluarkan nada sumbang "Dia telah membuatmu menangis ribuan kali.Tapi mengapa kau masih membuka lebar pintu hatimu?menunggu dia kembali dan mempersiapkan pelukan terbaikmu" dan dengan keangkuhan cinta pula aku menjawab "Karena cintaku padanya memaafkan."
Dan ketika mereka mulai mengataiku "Kau gila!Dia bahkan sama sekali tak pernah sedikitpun menunjukkan perhatian lebih padamu.Lupakan dan tinggalkan!" dengan senyum aku menimpalinya "Cintanya yang membuatku gila dan aku menikmatinya.Bukankah seorang raja pun mau bertingkah bak hamba sahaya demi perempuan yang di cintainya."
Mereka bilang laki-lakiku tak sebaik pangeran mereka,tapi mereka tak pernah mengerti bahwa laki-lakiku adalah harta terbaik yang pernah diberikan Tuhan untukku.
Mereka membanggakan laki-lakinya adalah pria yang memberikan perhatian penuh,membawakan sebuket bunga di setiap harinya.Tanpa mereka sadari bahwa laki-lakiku juga telah membanggakanku pada-Nya,dzat yang telah menciptakan laki-laki mereka.
Mereka mengenalkan laki-lakinya adalah pria yang berwibawa,maskulin dan berdedikasi tinggi.Tanpa mereka sadari bahwa aku memiliki laki-laki yang lebih hebat,laki-laki sederhana yang mampu membuatku tertawa lepas di sepanjang harinya.
Mereka berbangga hati ketika menceritakan makan malam mereka di restaurant mewah bintang 5.Dan untuk kesekian kalinya,tanpa mereka sadari bahwa ucapan "jangan lupa makan,nanti sakit" adalah hal yang lebih mengesankan daripada menikmati steak termahal di restaurant manapun.
Dan pada akhirnya,pertanyaan ini akan terlontar pada mulut mereka "Apa cintamu yang seperti itu bisa disebut cinta?" dengan senyum yang merekah aku mengangguk pasti.Menceritakan pada mereka bahwa "Cinta itu sederhana.Dia tak membutuhkan harta berlimpah untuk membuatnya tetap tinggal,dia juga tak membutuhkan alasan untuk merubah apa yang ada di dalam diri tokohnya."
"Misalnya?" mereka bertanya lagi dengan raut muka serius bercampur rasa penasaran.Dan dengan gamblang aku mulai berbicara "Cinta tak akan membuatmu kerepotan hanya karena satu jerawat tumbuh dihidungmu.Cinta juga tak akan pernah bingung mengetahui berat badanmu naik satu kilo.Bahkan cinta tak pernah peduli pada kulitmu yang mulai hitam,rambutmu yang mulai kusut atau bahkan pada hidungmu yang pesek itu.Tapi cinta itu..." ucapku terhenti dan memandang mereka dengan senyuman,dengan mata yang mulai menerawang jauh."Tapi apa?" tanya mereka semakin ingin tahu "Tapi cinta akan melarangmu diet karena tak ingin kau sakit.CInta akan memberimu penjelasan bahwa satu jerawat tak akan mengubah wajah cantikmu.Dan cinta dengan tulus mengatakan padamu bahwa orang berkulit hitam itu eksotis,jadi kau tak perlu mengkonsumsi cream maupun obat-obatan pemutih.Cinta juga akan mengatakan bahwa hidung pesek itu akan membuatmu semakin manis dan pipimu yang semakin chubby itu membuatmu cantik" ucapku pada mereka.
"Jadi?" Tanya mereka padaku.
"Kalian tak perlu menghabiskan waktu di salon untuk membuat cinta tetap tinggal."
"Kalau laki-lakiku tak mencintaiku lgi bagaimana?" Tanya salah satu diantara mereka.
"Apa kalian cukup bodoh untuk memahami semua penuturanku tadi?"
Mereka memandangku tak mengerti.Dengan hembusan nafas berat aku mulai berkata lagi.
"Bagaimana kalian percaya laki-laki seperti itu?Kecantikan adalah alasan cintanya.Dan ketika kecantikan itu hilang,maka cintanya pun ikut menghilang dan dia akan meninggalkan kalian.Tak sadarkah kalian?bahwa pada masanya kita akan tua,menjadi keriput dan tak cantik lagi.Apa kalian akan berbahagia hidup dengan laki-laki sperti itu?" mereka terdiam.
"Dia yang mencintai kalian,adalah dia yang mampu menjaga kalian.Menemani kalian diberbagai kondisi apapun.Tak meninggalkan kalian ketika masa telah menggerogoti wajah cantik kalian.Tapi dia akan selalu berada di samping kalian,menghabiskan sisa waktu dengan kalian bahkan memuji kalian cantik meski keriput telah terlihat dimana-mana." lanjutku.
Lama mereka terdiam,berdialog dengan pikiran masing-masing."Bukan sebuket bunga,bukan restaurant mewah bintang lima,bukan pula berlian maupun mobil mewah keluaran baru." ucapku membuyarkan lamunan mereka "Tapi kebahagiaan kecil ketika bersama,rasa rindu yang datang ketika lama mata tak beradu,cinta yang semakin tumbuh setiap harinya,saling menjaga janji sumpah setia dan debaran jantung setiap kali tangan saling bertaut mesra.Kebahagiaan tak lahir dari harta berlimpah,tapi kebahagiaan lahir dari sini..." ucapku sambil menunjuk dadaku "dari hati..." lanjutku pada mereka.
Kupandang wajah ayu sahabat-sahabatku itu,mereka mengangguk mengerti dengan senyum apik yang mengulum bibirnya.Satu pelajaran telah mereka dapatkan hari ini,yaitu tentang cinta dan kesederhanaan di dalamnya.
Ketika mereka bertanya "Apa yang dimiliki laki-lakimu yang tidak dimiliki laki-laki lain?" dengan bangga aku berkata "Getaran hangat yang menjalar di seluruh badan saat menatap mata teduhnya."
Ketika mereka berbicara "Dia bilang kau istimewa untuknya,tapi mengapa hobinya membuatmu meneteskan air mata?" dan untuk kesekian kalinya aku menjawab dengan senyuman tulus "Karena ketika perempuan telah menangis untuk laki-lakinya,itu pertanda bahwa laki-laki itu sangat berharga untuk hidupnya."
Ketika dengan angkuh mereka mengeluarkan nada sumbang "Dia telah membuatmu menangis ribuan kali.Tapi mengapa kau masih membuka lebar pintu hatimu?menunggu dia kembali dan mempersiapkan pelukan terbaikmu" dan dengan keangkuhan cinta pula aku menjawab "Karena cintaku padanya memaafkan."
Dan ketika mereka mulai mengataiku "Kau gila!Dia bahkan sama sekali tak pernah sedikitpun menunjukkan perhatian lebih padamu.Lupakan dan tinggalkan!" dengan senyum aku menimpalinya "Cintanya yang membuatku gila dan aku menikmatinya.Bukankah seorang raja pun mau bertingkah bak hamba sahaya demi perempuan yang di cintainya."
Mereka bilang laki-lakiku tak sebaik pangeran mereka,tapi mereka tak pernah mengerti bahwa laki-lakiku adalah harta terbaik yang pernah diberikan Tuhan untukku.
Mereka membanggakan laki-lakinya adalah pria yang memberikan perhatian penuh,membawakan sebuket bunga di setiap harinya.Tanpa mereka sadari bahwa laki-lakiku juga telah membanggakanku pada-Nya,dzat yang telah menciptakan laki-laki mereka.
Mereka mengenalkan laki-lakinya adalah pria yang berwibawa,maskulin dan berdedikasi tinggi.Tanpa mereka sadari bahwa aku memiliki laki-laki yang lebih hebat,laki-laki sederhana yang mampu membuatku tertawa lepas di sepanjang harinya.
Mereka berbangga hati ketika menceritakan makan malam mereka di restaurant mewah bintang 5.Dan untuk kesekian kalinya,tanpa mereka sadari bahwa ucapan "jangan lupa makan,nanti sakit" adalah hal yang lebih mengesankan daripada menikmati steak termahal di restaurant manapun.
Dan pada akhirnya,pertanyaan ini akan terlontar pada mulut mereka "Apa cintamu yang seperti itu bisa disebut cinta?" dengan senyum yang merekah aku mengangguk pasti.Menceritakan pada mereka bahwa "Cinta itu sederhana.Dia tak membutuhkan harta berlimpah untuk membuatnya tetap tinggal,dia juga tak membutuhkan alasan untuk merubah apa yang ada di dalam diri tokohnya."
"Misalnya?" mereka bertanya lagi dengan raut muka serius bercampur rasa penasaran.Dan dengan gamblang aku mulai berbicara "Cinta tak akan membuatmu kerepotan hanya karena satu jerawat tumbuh dihidungmu.Cinta juga tak akan pernah bingung mengetahui berat badanmu naik satu kilo.Bahkan cinta tak pernah peduli pada kulitmu yang mulai hitam,rambutmu yang mulai kusut atau bahkan pada hidungmu yang pesek itu.Tapi cinta itu..." ucapku terhenti dan memandang mereka dengan senyuman,dengan mata yang mulai menerawang jauh."Tapi apa?" tanya mereka semakin ingin tahu "Tapi cinta akan melarangmu diet karena tak ingin kau sakit.CInta akan memberimu penjelasan bahwa satu jerawat tak akan mengubah wajah cantikmu.Dan cinta dengan tulus mengatakan padamu bahwa orang berkulit hitam itu eksotis,jadi kau tak perlu mengkonsumsi cream maupun obat-obatan pemutih.Cinta juga akan mengatakan bahwa hidung pesek itu akan membuatmu semakin manis dan pipimu yang semakin chubby itu membuatmu cantik" ucapku pada mereka.
"Jadi?" Tanya mereka padaku.
"Kalian tak perlu menghabiskan waktu di salon untuk membuat cinta tetap tinggal."
"Kalau laki-lakiku tak mencintaiku lgi bagaimana?" Tanya salah satu diantara mereka.
"Apa kalian cukup bodoh untuk memahami semua penuturanku tadi?"
Mereka memandangku tak mengerti.Dengan hembusan nafas berat aku mulai berkata lagi.
"Bagaimana kalian percaya laki-laki seperti itu?Kecantikan adalah alasan cintanya.Dan ketika kecantikan itu hilang,maka cintanya pun ikut menghilang dan dia akan meninggalkan kalian.Tak sadarkah kalian?bahwa pada masanya kita akan tua,menjadi keriput dan tak cantik lagi.Apa kalian akan berbahagia hidup dengan laki-laki sperti itu?" mereka terdiam.
"Dia yang mencintai kalian,adalah dia yang mampu menjaga kalian.Menemani kalian diberbagai kondisi apapun.Tak meninggalkan kalian ketika masa telah menggerogoti wajah cantik kalian.Tapi dia akan selalu berada di samping kalian,menghabiskan sisa waktu dengan kalian bahkan memuji kalian cantik meski keriput telah terlihat dimana-mana." lanjutku.
Lama mereka terdiam,berdialog dengan pikiran masing-masing."Bukan sebuket bunga,bukan restaurant mewah bintang lima,bukan pula berlian maupun mobil mewah keluaran baru." ucapku membuyarkan lamunan mereka "Tapi kebahagiaan kecil ketika bersama,rasa rindu yang datang ketika lama mata tak beradu,cinta yang semakin tumbuh setiap harinya,saling menjaga janji sumpah setia dan debaran jantung setiap kali tangan saling bertaut mesra.Kebahagiaan tak lahir dari harta berlimpah,tapi kebahagiaan lahir dari sini..." ucapku sambil menunjuk dadaku "dari hati..." lanjutku pada mereka.
Kupandang wajah ayu sahabat-sahabatku itu,mereka mengangguk mengerti dengan senyum apik yang mengulum bibirnya.Satu pelajaran telah mereka dapatkan hari ini,yaitu tentang cinta dan kesederhanaan di dalamnya.
Lelaki Keras Kepalaku Dulu
Aku menuliskannya ditengah pening,mual dan demam yang sedang
berlomba-lomba menghancurkan antibodi tubuhku. Berkali-kali mama
berteriak agar aku tak menatap laptop terlalu lama dan menyuruhku untuk
segera beristirahat, aku hanya menanggapi dengan anggukan pelan, tanpa
suara. Mama memarahiku, lalu dengan segala macam alasan akhirnya mama
berhenti menyuruhku beristirahat.
Yaa,aku berasalan untuk menyelesaikan naskah yang harus kuserahkan pada
penerbit secepatnya. Padahal, tak ada satupun naskah yang harus
kuselesaikan.
Segala bentuk hutang naskah telah kuselesaikan 2 hari yang lalu. Cukup menguras energiku, bagaimana tidak menguras energiku jika setiap hari aku harus tidur bersamaan dengan terbitnya fajar dipagi hari agar naskah itu cepat terselesaikan.
Aku sungguh ingin tidur, lingkaran mata yang mulai menghitam menandakan aku lelah dan membutuhkan istirahat. Namun, rasa kantuk dan lelah itu tak kunjung membuat mataku terpejam. Rasanya menyebalkan jika harus melihat siluetmu dalam keadaan aku sangat membutuhkan istirahat.
Karena itu berarti, aku akan mulai memikirkanmu lagi, akan memaksa diriku untuk membicarakanmu lagi, akan kembali mengingat segala macam bentuk kenangan kita dulu.
Ahh ya, aku selalu ingat bagaimana ekspresi khawatir itu ketika mengetahui bahwa aku sedang sakit, nada-nada marah sambil menyuapiku bubur ayam, serta tatapan memelas agar aku menuruti setiap perkataan yang katanya "ini demi kebaikan dan kesehatanmu".
Aku sebal ketika kau menyuruhku ini itu untuk menjaga kesehatanku. Lalu bagaimana dengan kesehatanmu sendiri tuan keras kepala? Kau begitu angkuh untuk menuruti perkataanku, ketika aku marah karena melihat kau tumbang dengan selang infus yang terpasang di tangan kirimu, kau malah tersenyum dan bilang "jangan khawatir, aku baik-baik saja". Tuh kan? Kau selalu begitu, bebal dan keras kepala.
Sudah satu tahun semenjak perpisahan kita, dan sudah tujuh bulan terakhir aku tak mendengar kabarmu. Apa kau sehat? Apa kau baik-baik saja? Dan apa kau masih tetap keras kepala?
Aku selalu berharap kau akan membaca setiap tulisan-tulisanku, agar kau mengerti bagaimana sesungguhnya hatiku padamu. Agar kau mengerti bahwa menahan untuk tidak berkata rindu itu membuatku terluka, meski aku tahu setiap abjad yang kutulis tak akan tersentuh indra penglihatanmu, tapi tetap saja aku berharap kau tak sengaja akan membaca tulisanku kali ini.
Ketika kau memutuskan pergi kala itu, aku tak akan memaksamu untuk kembali pulang, kau boleh pulang kemanapun kau ingin. Tapi, ketika sosok yang kau datangi itu malah membuatmu sedih dan terluka. Kau boleh pulang kemari, pintuku masih terbuka lebar untukmu, pintuku masih dan akan selalu siap mendekap kesedihanmu, membasuh peluhmu serta memberikan senyum terbaik ketika kau mengucap kata "maafkan aku."
Ahh sudah, kepalaku semakin terasa pening. Aku akan beristirahat.
Hey, tuan keras kepala ! Aku merindukanmu !
Tertanda,
Gadis galau yang isi twitternya selalu tentangmu.
Segala bentuk hutang naskah telah kuselesaikan 2 hari yang lalu. Cukup menguras energiku, bagaimana tidak menguras energiku jika setiap hari aku harus tidur bersamaan dengan terbitnya fajar dipagi hari agar naskah itu cepat terselesaikan.
Aku sungguh ingin tidur, lingkaran mata yang mulai menghitam menandakan aku lelah dan membutuhkan istirahat. Namun, rasa kantuk dan lelah itu tak kunjung membuat mataku terpejam. Rasanya menyebalkan jika harus melihat siluetmu dalam keadaan aku sangat membutuhkan istirahat.
Karena itu berarti, aku akan mulai memikirkanmu lagi, akan memaksa diriku untuk membicarakanmu lagi, akan kembali mengingat segala macam bentuk kenangan kita dulu.
Ahh ya, aku selalu ingat bagaimana ekspresi khawatir itu ketika mengetahui bahwa aku sedang sakit, nada-nada marah sambil menyuapiku bubur ayam, serta tatapan memelas agar aku menuruti setiap perkataan yang katanya "ini demi kebaikan dan kesehatanmu".
Aku sebal ketika kau menyuruhku ini itu untuk menjaga kesehatanku. Lalu bagaimana dengan kesehatanmu sendiri tuan keras kepala? Kau begitu angkuh untuk menuruti perkataanku, ketika aku marah karena melihat kau tumbang dengan selang infus yang terpasang di tangan kirimu, kau malah tersenyum dan bilang "jangan khawatir, aku baik-baik saja". Tuh kan? Kau selalu begitu, bebal dan keras kepala.
Sudah satu tahun semenjak perpisahan kita, dan sudah tujuh bulan terakhir aku tak mendengar kabarmu. Apa kau sehat? Apa kau baik-baik saja? Dan apa kau masih tetap keras kepala?
Aku selalu berharap kau akan membaca setiap tulisan-tulisanku, agar kau mengerti bagaimana sesungguhnya hatiku padamu. Agar kau mengerti bahwa menahan untuk tidak berkata rindu itu membuatku terluka, meski aku tahu setiap abjad yang kutulis tak akan tersentuh indra penglihatanmu, tapi tetap saja aku berharap kau tak sengaja akan membaca tulisanku kali ini.
Ketika kau memutuskan pergi kala itu, aku tak akan memaksamu untuk kembali pulang, kau boleh pulang kemanapun kau ingin. Tapi, ketika sosok yang kau datangi itu malah membuatmu sedih dan terluka. Kau boleh pulang kemari, pintuku masih terbuka lebar untukmu, pintuku masih dan akan selalu siap mendekap kesedihanmu, membasuh peluhmu serta memberikan senyum terbaik ketika kau mengucap kata "maafkan aku."
Ahh sudah, kepalaku semakin terasa pening. Aku akan beristirahat.
Hey, tuan keras kepala ! Aku merindukanmu !
Tertanda,
Gadis galau yang isi twitternya selalu tentangmu.
Surat Ke-2 Untukmu (Here, I Love You)
Mungkin akhir-akhir ini aku akan banyak menulis tentangnya. Kosa kata yang membuatku jatuh cinta.
Tak terlalu ramah, tak terlalu hangat, tak bisa membawa suasana, terlalu kaku, terlalu angkuh, terlalu tidak peduli, terlalu tidak peka terhadap sekitar. Gambaran kecil mengenainya. Tak ada istimewanya sama sekali memang, tapi entah mengapa dia tetap saja nampak istimewa dalam keadaan apapun di mataku. Tidak gila ! Ini wajar untuk pemikiran orang yang sedang jatuh cinta.
Hujan mengguyur kotaku sejak siang tadi, titik-titik air itu akan jatuh pada sembarang tempat. Membuat jalanan licin, becek dan kotor. Tapi, bukankah hujan memiliki tempat yang istimewa bagi para manusia yang sedang jatuh cinta? Memiliki aura yang akan membawanya untuk pergi jauh, menemui sosok yang diam-diam hinggap dan menetap di hatinya.
Nyanyian hujan seperti nyanyian rindu. Terdengar jelas bagaimana ketukan dan nada yang lirih-lirih memanggil namamu. Mungkin kau tidak sadar, ahh yaa, bagaimana kau bisa sadar? Kau adalah makhluk yang paling tidak peduli pada keadaan sekitar. Bahkan untuk menikmati hujan sedetikpun, aku rasa kau tak akan sanggup. Dasar tuan sok sibuk !
Dan kali ini, aku tak kan menulis panjang mengenai dirimu. Aku hanya akan memberimu sebuah penggalan puisi, puisi karya Pablo Neruda. Puisi yang kuharapkan bisa membuatmu mengatakan "aku juga mencintaimu".
I see myself forgotten like those old anchors.
The piers sadden when the afternoon moors there.
My life grows tired, hungry to no purpose.
I love what I do not have. You are so far.
My loathing wrestles with the slow twilights.
But night comes and starts to sing to me.
The moon turns its clockwork dream.
The biggest stars look at me with your eyes.
And as I love you, the pines in the wind
want to sing your name with their leaves of wire.
Indah bukan?
Mungkin suatu saat nanti aku akan menuliskannya untukmu. Satu puisi hasil karyaku sendiri, satu puisi yang akan menceritakanmu, dan satu puisi yang akan membawaku menari berdua bersamamu.
Maaf jika setiap hari kau harus kupaksa menerima surat ini. Surat kaleng dari seseorang yang mencintaimu. Surat buta dari seseorang yang selalu berharap dapat melihatmu.
Dan seperti judul penggalan puisi karya Neruda itu, aku akan berbisik lirih padamu " Here I love you".
Tertanda,
Gadis melankolis yang masih selalu mendoakan kebaikanmu.
Tak terlalu ramah, tak terlalu hangat, tak bisa membawa suasana, terlalu kaku, terlalu angkuh, terlalu tidak peduli, terlalu tidak peka terhadap sekitar. Gambaran kecil mengenainya. Tak ada istimewanya sama sekali memang, tapi entah mengapa dia tetap saja nampak istimewa dalam keadaan apapun di mataku. Tidak gila ! Ini wajar untuk pemikiran orang yang sedang jatuh cinta.
Hujan mengguyur kotaku sejak siang tadi, titik-titik air itu akan jatuh pada sembarang tempat. Membuat jalanan licin, becek dan kotor. Tapi, bukankah hujan memiliki tempat yang istimewa bagi para manusia yang sedang jatuh cinta? Memiliki aura yang akan membawanya untuk pergi jauh, menemui sosok yang diam-diam hinggap dan menetap di hatinya.
Nyanyian hujan seperti nyanyian rindu. Terdengar jelas bagaimana ketukan dan nada yang lirih-lirih memanggil namamu. Mungkin kau tidak sadar, ahh yaa, bagaimana kau bisa sadar? Kau adalah makhluk yang paling tidak peduli pada keadaan sekitar. Bahkan untuk menikmati hujan sedetikpun, aku rasa kau tak akan sanggup. Dasar tuan sok sibuk !
Dan kali ini, aku tak kan menulis panjang mengenai dirimu. Aku hanya akan memberimu sebuah penggalan puisi, puisi karya Pablo Neruda. Puisi yang kuharapkan bisa membuatmu mengatakan "aku juga mencintaimu".
I see myself forgotten like those old anchors.
The piers sadden when the afternoon moors there.
My life grows tired, hungry to no purpose.
I love what I do not have. You are so far.
My loathing wrestles with the slow twilights.
But night comes and starts to sing to me.
The moon turns its clockwork dream.
The biggest stars look at me with your eyes.
And as I love you, the pines in the wind
want to sing your name with their leaves of wire.
Indah bukan?
Mungkin suatu saat nanti aku akan menuliskannya untukmu. Satu puisi hasil karyaku sendiri, satu puisi yang akan menceritakanmu, dan satu puisi yang akan membawaku menari berdua bersamamu.
Maaf jika setiap hari kau harus kupaksa menerima surat ini. Surat kaleng dari seseorang yang mencintaimu. Surat buta dari seseorang yang selalu berharap dapat melihatmu.
Dan seperti judul penggalan puisi karya Neruda itu, aku akan berbisik lirih padamu " Here I love you".
Tertanda,
Gadis melankolis yang masih selalu mendoakan kebaikanmu.
Surat Pertama Untukmu ( Cinta Gadis Melankolis)
Mungkin gadis melankolis sepertiku dilarang merasakan cinta yang nyata.
Cukup boleh merasakan cinta dari novel yang kubawa kemana-mana, cinta
dunia khayal buah pemikiran manusia.
Yaa, aku menuliskannya ketika suasana hatiku sedang entahlah-tak karuan. Ingin menangis, tapi lelaki kaku itu bukan siapa-siapaku, ingin marah tapi lelaki dingin itu tak memiliki hubungan yang spesial denganku. Jadi, apa aku harus diam? Menerima segala macam takdir yang akan membawaku pada cinta sendirian.
Tak tahu kapan pastinya aku mulai mencintai makhluk kaku dan dingin itu. Semuanya mengalir apa adanya. Begitu sederhana seperti air mataku yang dengan mudahnya turun ketika sedang merindukannya.
Mungkin gadis melankolis sepertiku hanya boleh menyentuh novel, merasakan gejolak cinta yang dihadirkan 2 tokoh utama dalam urutan abjad yang disampul indah itu.
Lantas, apa gadis melankolis penyuka novel sepertiku dilarang berkhayal mendapatkan pelukan nyata? Dilarang merasakan bagaimana kelembutan bibirnya yang menyentuh pelan keningku? Apa gadis melankolis selalu di takdirkan patah hati sebelum merasakan bagaimana sensasi mendapat surprise pernyataan cinta yang romantis?
Aku hanya kebetulan sedang jatuh cinta pada lelaki sederhana yang bergaya dingin dan bersikap kaku. Cinta diam-diam yang kusembunyikan rapi, cinta diam-diam yang tak ingin tersentuh oleh siapapun. Cinta diam-diam yang mulai kunikmati setiap pengabaian yang menumbuhkan luka.
Mungkin aku salah, aku salah mengartikan pelukan yang tergambar lucu pada pesan singkatnya. Salah mengartikan bagaimana tulisan-tulisan itu mengeja kalimat khawatir ketika aku bilang bahwa aku sedang sakit. Yaa, mungkin aku salah, sangat salah ketika menganggapnya juga memiliki rasa yang sama denganku.
Dan untukmu ;
Aku mencintaimu, entah sejak kapan. Mungkin sejak pesan-pesan singkatmu menghidupkan lampu LED handphoneku, mungkin sejak 'is writing a message' darimu adalah kebahagiaan kecil yang mampu menggetarkan hatiku, atau mungkin sejak aku selalu menatap - terpaku pada layar handphoneku hanya untuk menunggu balasan pesan darimu.
Aku mulai menikmati jatuh cinta diam-diam ini, menikmati sensasi rindu yang entah harus bagaimana aku mengatakannya, menikmati setiap gejolak bahagia ketika kau membalas pesan singkatku, dan menikmati setiap keresahan ketika sampai tengah malam tak ada balasan apapun darimu.
Sudah yaa, aku ingin istirahat dulu. Dan kau, jagalah kesehatanmu. Kurangi begadang tiap malam dan mulailah belajar tidur tepat waktu. Aku mencintaimu.........
Tertanda,
Gadis melankolis yang diam-diam selalu mendoakan kebaikan untukmu.
Yaa, aku menuliskannya ketika suasana hatiku sedang entahlah-tak karuan. Ingin menangis, tapi lelaki kaku itu bukan siapa-siapaku, ingin marah tapi lelaki dingin itu tak memiliki hubungan yang spesial denganku. Jadi, apa aku harus diam? Menerima segala macam takdir yang akan membawaku pada cinta sendirian.
Tak tahu kapan pastinya aku mulai mencintai makhluk kaku dan dingin itu. Semuanya mengalir apa adanya. Begitu sederhana seperti air mataku yang dengan mudahnya turun ketika sedang merindukannya.
Mungkin gadis melankolis sepertiku hanya boleh menyentuh novel, merasakan gejolak cinta yang dihadirkan 2 tokoh utama dalam urutan abjad yang disampul indah itu.
Lantas, apa gadis melankolis penyuka novel sepertiku dilarang berkhayal mendapatkan pelukan nyata? Dilarang merasakan bagaimana kelembutan bibirnya yang menyentuh pelan keningku? Apa gadis melankolis selalu di takdirkan patah hati sebelum merasakan bagaimana sensasi mendapat surprise pernyataan cinta yang romantis?
Aku hanya kebetulan sedang jatuh cinta pada lelaki sederhana yang bergaya dingin dan bersikap kaku. Cinta diam-diam yang kusembunyikan rapi, cinta diam-diam yang tak ingin tersentuh oleh siapapun. Cinta diam-diam yang mulai kunikmati setiap pengabaian yang menumbuhkan luka.
Mungkin aku salah, aku salah mengartikan pelukan yang tergambar lucu pada pesan singkatnya. Salah mengartikan bagaimana tulisan-tulisan itu mengeja kalimat khawatir ketika aku bilang bahwa aku sedang sakit. Yaa, mungkin aku salah, sangat salah ketika menganggapnya juga memiliki rasa yang sama denganku.
Dan untukmu ;
Aku mencintaimu, entah sejak kapan. Mungkin sejak pesan-pesan singkatmu menghidupkan lampu LED handphoneku, mungkin sejak 'is writing a message' darimu adalah kebahagiaan kecil yang mampu menggetarkan hatiku, atau mungkin sejak aku selalu menatap - terpaku pada layar handphoneku hanya untuk menunggu balasan pesan darimu.
Aku mulai menikmati jatuh cinta diam-diam ini, menikmati sensasi rindu yang entah harus bagaimana aku mengatakannya, menikmati setiap gejolak bahagia ketika kau membalas pesan singkatku, dan menikmati setiap keresahan ketika sampai tengah malam tak ada balasan apapun darimu.
Sudah yaa, aku ingin istirahat dulu. Dan kau, jagalah kesehatanmu. Kurangi begadang tiap malam dan mulailah belajar tidur tepat waktu. Aku mencintaimu.........
Tertanda,
Gadis melankolis yang diam-diam selalu mendoakan kebaikan untukmu.
Perpustakaan Sudut Kota (FF)
Aku melihatnya. Entah siapa namanya. Gayanya khas seniman,tak rapi
dengan rambut yang dibiarkan panjang. Entah buku apa lagi yang
dilahapnya kali ini, matanya begitu serius menatap aksara-aksara yang
berteriak ingin dipahami.
Perpustakaan hari ini tak terlalu ramai. Hanya beberapa kursi yang diisi oleh para pecinta fiksi. Sibuk bergelayut dalam angan, membiarkan diri sejenak berkhayal menjadi tokoh utama dalam untaian bermanja kasih sayang.
Aku menuju rak berisikan buku mengenai kesusastraan. Mengambil novel fiktif secara acak dan kemudian melangkahkan kaki untuk duduk di kursi yang disediakan,dan kali ini aku akan duduk di sampingnya.
Kulirik wajah yang kuperhatikan sejak tadi dengan ekor mataku. Dan siluetnya terlihat manis. Begitu manis, dan jantungku entah mengapa berdegup sangat kencang. Sudah kupotret wajahnya dalam ingatan. Jauh lebih abadi daripada memotretnya menggunakan ponsel atau kamera berlensa panjang khas jaman sekarang.
Pura-pura kubuka buku yang sama sekali tak minat kubaca saat ini. Memandangnya lebih menyenangkan daripada memandang huruf demi huruf yang dirangkai menjadi janji indah itu. Sesekali kulirik lelaki sedikit gondrong disebelahku ini. Dan senyum simpul selalu mengikuti setiap lirikan mataku padanya. Iku tersenyum, bahagia.
"Dik..."
Suara yang terdengar sangat dekat,tapi entah darimana dan untuk siapa.
"Dik..."
Ucapnya lagi.
Aku menoleh kearah sumber suara. Terlihat lelaki itu memandang kearahku,dengan mata tegas yang seperti menyimpan banyak kerinduan.
"Saya mas?" Tanyaku padanya.
"Iya,kamu." Jawabnya dengan senyum simpul.
"Pengunjung tetap yaa,kok aku sering lihat kamu disini." Tanyanya ramah,dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya.
Aku mengangguk pelan, sebagai jawaban atas pertanyaannya.
" Mario,panggil saja Rio." ucapnya memperkenalkan diri,sambil mengulurkan tangannya.
"Alyssa,tetapi lebih sering dipanggil Ify." Ucapku sambil menyambut uluran tangannya.
Selanjutnya obrolan kecil pun tercipta. Kami membicarakan para penyair dan novelis terkenal Indonesia. Dan dalam obrolan kecil kami, satu hal yang sama. Kami sama-sama menyukai penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisinya yang menggetarkan jiwa, sederhana namun menusuk relung dada.
" Kamu tau gak dik,kata-kata paling romantis di puisinya bapak sapardi apa?" Tanyanya padaku.
"Apa mas?" Timpalku.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. " Ucapnya padaku, mantap, seperti seseorang yang menyatakan cinta pada kekasihnya.
Aku tertegun mendengarnya. Begitu indah.
"Kalau kamu dik?" Tanyanya padaku.
" Kalau aku suka puisinya yang berjudul pada suatu hari nanti mas." Jawabku.
"Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi tapi di dalam baik-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri" ucapku mengucapkan bait pertama.
" Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagi tapi diantara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati" lanjutmu mengucapkan bait kedua.
" Pada suatu hari nanti, impianku pun tak dikenal lagi namun disela-sela huruf sajak ini kau tak akan letih-letihnya ku cari." Ucapku mengucap bait ketiga,bait terakhir dari puisi yang berjudul Pada Suatu Hari Nanti.
***
Lamunanku buyar ketika ada yang menyentuh bahuku pelan.
"Fy...." Panggil Shilla,penjaga perpustakaan yang juga sebagai sahabatku itu dengan nada sendu.
" Sudah satu tahun terakhir shill,dan aku merindukannya." Kataku dengan nada sedikit bergetar.
" Dia pasti punya alasan kenapa bisa pergi tanpa meninggalkan pesan." Ucap Shilla padaku.
" Alasan? Alasan yang bagaimana shill? Alasan yang bisa membunuhku kapan saja karena terus menunggunya. Alasan yang bisa menyakitiku kapanpun karena aku masih berharap dia kembali padaku, lalu mengucapkan - april mop -. Alasan yang aku sama sekali gak ngerti kenapa dia bisa kayak gini, pergi dan hilang tanpa secuil pesan." Tangisku pecah.
" Ify..." Panggil Shilla lalu kemudian merengkuhku hangat,khas seorang sahabat.
Aku tak tahu lagi,apakah harus tetap mempercayai puisi-puisimu dulu? Puisi yang setiap baitnya selalu bercerita tentang cinta, tentang kamu, tentang aku, tentang kita.
Dan, diantara rak-rak buku di tempat ini. Di kursi sudut ruangan, menghadap jam dinding besar yang menunjukkan pukul 2 siang. kau pernah berbisik lembut padaku. Membisikkan penggalan puisi yang begitu indah maknanya.
" Yang fana adalah waktu, kita abadi" katamu sambil mengecup keningku pelan.
Dan disini, ditempat yang sama, si tempat duduk yang sama, dan waktu yang menunjukkan pukul 2 siang. Aku ingin berbisik lembut padamu.
" Aku menunggumu di perpustakaan sudut kota ini mas. Pulanglah."
Perpustakaan hari ini tak terlalu ramai. Hanya beberapa kursi yang diisi oleh para pecinta fiksi. Sibuk bergelayut dalam angan, membiarkan diri sejenak berkhayal menjadi tokoh utama dalam untaian bermanja kasih sayang.
Aku menuju rak berisikan buku mengenai kesusastraan. Mengambil novel fiktif secara acak dan kemudian melangkahkan kaki untuk duduk di kursi yang disediakan,dan kali ini aku akan duduk di sampingnya.
Kulirik wajah yang kuperhatikan sejak tadi dengan ekor mataku. Dan siluetnya terlihat manis. Begitu manis, dan jantungku entah mengapa berdegup sangat kencang. Sudah kupotret wajahnya dalam ingatan. Jauh lebih abadi daripada memotretnya menggunakan ponsel atau kamera berlensa panjang khas jaman sekarang.
Pura-pura kubuka buku yang sama sekali tak minat kubaca saat ini. Memandangnya lebih menyenangkan daripada memandang huruf demi huruf yang dirangkai menjadi janji indah itu. Sesekali kulirik lelaki sedikit gondrong disebelahku ini. Dan senyum simpul selalu mengikuti setiap lirikan mataku padanya. Iku tersenyum, bahagia.
"Dik..."
Suara yang terdengar sangat dekat,tapi entah darimana dan untuk siapa.
"Dik..."
Ucapnya lagi.
Aku menoleh kearah sumber suara. Terlihat lelaki itu memandang kearahku,dengan mata tegas yang seperti menyimpan banyak kerinduan.
"Saya mas?" Tanyaku padanya.
"Iya,kamu." Jawabnya dengan senyum simpul.
"Pengunjung tetap yaa,kok aku sering lihat kamu disini." Tanyanya ramah,dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya.
Aku mengangguk pelan, sebagai jawaban atas pertanyaannya.
" Mario,panggil saja Rio." ucapnya memperkenalkan diri,sambil mengulurkan tangannya.
"Alyssa,tetapi lebih sering dipanggil Ify." Ucapku sambil menyambut uluran tangannya.
Selanjutnya obrolan kecil pun tercipta. Kami membicarakan para penyair dan novelis terkenal Indonesia. Dan dalam obrolan kecil kami, satu hal yang sama. Kami sama-sama menyukai penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisinya yang menggetarkan jiwa, sederhana namun menusuk relung dada.
" Kamu tau gak dik,kata-kata paling romantis di puisinya bapak sapardi apa?" Tanyanya padaku.
"Apa mas?" Timpalku.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana : dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. " Ucapnya padaku, mantap, seperti seseorang yang menyatakan cinta pada kekasihnya.
Aku tertegun mendengarnya. Begitu indah.
"Kalau kamu dik?" Tanyanya padaku.
" Kalau aku suka puisinya yang berjudul pada suatu hari nanti mas." Jawabku.
"Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi tapi di dalam baik-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri" ucapku mengucapkan bait pertama.
" Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagi tapi diantara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati" lanjutmu mengucapkan bait kedua.
" Pada suatu hari nanti, impianku pun tak dikenal lagi namun disela-sela huruf sajak ini kau tak akan letih-letihnya ku cari." Ucapku mengucap bait ketiga,bait terakhir dari puisi yang berjudul Pada Suatu Hari Nanti.
***
Lamunanku buyar ketika ada yang menyentuh bahuku pelan.
"Fy...." Panggil Shilla,penjaga perpustakaan yang juga sebagai sahabatku itu dengan nada sendu.
" Sudah satu tahun terakhir shill,dan aku merindukannya." Kataku dengan nada sedikit bergetar.
" Dia pasti punya alasan kenapa bisa pergi tanpa meninggalkan pesan." Ucap Shilla padaku.
" Alasan? Alasan yang bagaimana shill? Alasan yang bisa membunuhku kapan saja karena terus menunggunya. Alasan yang bisa menyakitiku kapanpun karena aku masih berharap dia kembali padaku, lalu mengucapkan - april mop -. Alasan yang aku sama sekali gak ngerti kenapa dia bisa kayak gini, pergi dan hilang tanpa secuil pesan." Tangisku pecah.
" Ify..." Panggil Shilla lalu kemudian merengkuhku hangat,khas seorang sahabat.
Aku tak tahu lagi,apakah harus tetap mempercayai puisi-puisimu dulu? Puisi yang setiap baitnya selalu bercerita tentang cinta, tentang kamu, tentang aku, tentang kita.
Dan, diantara rak-rak buku di tempat ini. Di kursi sudut ruangan, menghadap jam dinding besar yang menunjukkan pukul 2 siang. kau pernah berbisik lembut padaku. Membisikkan penggalan puisi yang begitu indah maknanya.
" Yang fana adalah waktu, kita abadi" katamu sambil mengecup keningku pelan.
Dan disini, ditempat yang sama, si tempat duduk yang sama, dan waktu yang menunjukkan pukul 2 siang. Aku ingin berbisik lembut padamu.
" Aku menunggumu di perpustakaan sudut kota ini mas. Pulanglah."
LAMARAN (ff special RiFy)
Langit biru yang cerah mengiringi ceritaku hari ini.Tak ada hujan,tak
ada kabut tebal berwarna hitam.Yang ada hanya busa-busa putih yang
menggantung indah di langit biru yang cerah.
Laki-laki itu datang kerumah.Dengan sebuket bunga mawar merah dan segenggam keberanian untuk menemui papaku.Entah apa yang akan dilakukannya.Hatiku berdebar tak karuan.Aku begitu takut dia melakukan hal gila atau hal bodoh di depan papaku.Hatiku was-was,namun ditilik dari reaksi tubuhnya yang begitu tenang,hatiku sedikit terasa hangat.
"Silaturrahmi",hanya itu yang dikatakannya ketika aku bertanya apa tujuannya datang kesini dan ingin bertemu papaku.Alasan yang cukup masuk akal,namun tak bisa diterima oleh hatiku.Hatiku ingin penjelasan lebih,namun laki-laki menyebalkan itu tetap bungkam dan hanya menjawab pertanyaanku dengan senyuman.
Hanya berdua di ruang tamu.Tanpa suara,berkecamuk dalam pikiran masing-masing.Tampilannya begitu rapi.Melihatnya memakai setelan kemeja berwarna putih dengan raut muka tegang seperti itu entah mengapa membuatku ingin tertawa sekencang-kencangnya.
Aku memandangnya dengan tatapan aneh.Ingin tertawa melihatnya seperti ini.keningku berkerut dan bibirku menyunggingkan senyum.
"Kenapa?" Tanyanya sambil menoleh ke arahku.
Aku menggelengkan kepala pelan,masih dengan tersenyum kearahnya.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu.Kamu kenapa?aneh tau gak lihat kamu kayak gini." Ucapku santai.
"Nanti juga bakal tau aku kenapa." Ucapnya santai,sambil menyunggingkan senyum teka-teki.
"Aneh." Ucapku sambil memalingkan wajah,lantas mengambil majalah yang ada di atas meja.
"Kamu terus bilang aku aneh.Padahal udah ganteng gini." Ucapnya narsis yang membuatku melengos.
"Cuma tante Rosa yang bilang kamu ganteng,aku mah kagak pernah." Ucapku sambil menjulurkan lidah.
"Berhenti manggil mama dengan sebutan tante deh.Lagian,bentar lagi juga bakal jadi mama kamu." Ucapnya sambil memandang raut mukaku yang mendadak kaku.
"Hah???" Jawabku kaget.
"Hahahaha...." Dia tertawa melihat wajah oonku saat ini.
"Udahh...pergi sana,tuh papa kamu udah mau kesini.Urusan cowok,jadi kamu gak boleh ganggu." Lanjutnya sambil mendorong bahuku.
"Yang punya rumah siapa,yang ngusir siapa." Ucapku ngeledek.
Dia hanya terkekeh melihat bibirku yang mulai manyun akibat ulahnya.
***
Kukuping percakapan dua laki-laki itu bersama mama.
"Apa kabar Mario?" Tanya ayahku memulai percakapan.
"Sangat baik,om apa kabar?sehat?" Jawab sekaligus tanya Rio pada papaku.
"Seperti yang kamu lihat nak,sehat sekali.Papa mamamu bagaimana?sehat?" Tanya papaku lagi.
"Alhamdulillah semua baik om." Jawab Rio ramah.
10 menit berlalu,mereka saling diam.Mungkin bingung ingin membicarakan hal apa dan memulai dari mana.Hatiku entah mengapa ikut was-was melihat raut wajah Rio yang semakin tegang.
"Om..." Kudengar Rio memecah keheningan di ruang tamu.
Satu tarikan nafas panjang terlihat begitu jelas oleh indra penglihatanku.Kugenggam erat jari jemari mamaku.Hatiku berdegub tak karuan,menunggu kata-kata apa yang ingin diucapkan Rio pada papaku.
"Tujuan Rio datang kesini ingin membicarakan sesuatu hal yang menurut Rio sangat penting untuk masa depan Rio.Kehidupan Rio,kebahagiaan Rio dan Kesempurnaan hidup Rio,dan itu semua ada di tangan om hari ini..." Ucapnya tertahan,terlihat menarik nafas panjang sekali lagi.
Kulihat papa menatap rio dengan kening berkerut.Mungkin bingung sekaligus tidak paham dengan apa yang Rio ucapkan barusan."Dasar pria bodoh,mengapa berbelit-belit seperti itu." Ucapku geram dalam hati.
"Sebelumnya maaf kalau Rio mengganggu waktu istirahat om.Tapi sumpah,hari ini Rio telah bertekad ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting pada om.Rio sangat mencintai anak sulung om.Alyssa Saufika Umari..." Ucapnya terhenti.
Aku kaget mendengar ucapan laki-laki menyebalkan itu.Lalu sedetik kemudian tersenyum.Ku genggam semakin erat tangan mamaku.Ku lihat mama yang disampingku juga ikut tersenyum mendengar penuturan Rio.
"Sudah 4 tahun terakhir ini,nama itu yang selalu ada di hati dan juga pikiran Rio,nama anak sulung om.Sepertinya putri kecil om sudah berhasil menguasai seluruh hati dan pikiran Rio.Tapi Rio sama sekali tak keberatan,karena sepertinya Rio benar-benar jatuh cinta pada putri kecil om...."
"Jadi???" Sela papaku.
"Rio mau meminta izin pada om untuk menjadikan Ify gadis terakhir yang akan menemani hidup Rio.Menjadikan anak om sebagai istri dan menjadikan putri om sebagai satu-satunya ratu yang akan mengisi hati Rio...." Ucapan Rio terhenti,terlihat keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Entah mengapa air mataku menyeruak keluar mendengar ucapan Rio pada papaku."Maa..." Ucapku menghadap mama,"Apa ini sebuah lamaran?" Tanyaku pada mama.Hanya senyuman yang menjadi jawaban atas pertanyaanku tadi.Jemari lentiknya mengusap air mataku dengan perlahan.Kupeluk erat mamaku dan kutumpahkan air mata kebahagiaanku dipelukannya.
"Rio berjanji..." Terdengar Rio mulai mengucap isi hatinya pada papa.
"Rio akan membahagiakan Ify.Tak akan ada satupun air mata kesedihan yang keluar dari mata cantik anak sulung om.Sepenuh hati Rio akan membahagiakannya dan menjaganya dari apapun dan siapapun.Kalau suatu saat nanti,ternyata Rio melanggar ucapan janji Rio hari ini,om boleh langsung menghajar atau bahkan membunuh Rio saat itu juga..." Ucapnya yakin.
"Apa ini sebuah lamaran Mario Haling?" Tanya papaku padanya.
"Entah bisa disebut lamaran atau tidak,Rio tak tahu itu.Yang pasti,Rio disini,dihadapan om Ferdi,sekali lagi ingin meminta izin untuk membahagiakan hidup Alyssa Saufika Umari dan akan berjanji menjaganya dari apapun dan siapapun.Apa Om Ferdi mengizinkannya?" Ucap Rio mantap sepenuh hati.
Terlihat papa hanya diam disana,tak membuka mulutnya.Tak memberi jawaban apapun atas segala macam janji sumpah yang diucapkan Rio.
Menit demi menit berlalu,sunyi,sepi dan tak terdengar siapapun yang berbicara.Terlihat Rio semakin tegang disana.Raut mukanya tak bisa terdeskripsikan ekspresinya.
Papa bangkit dari tempat duduknya.Lantas tersenyum seraya berkata "Om mengizinkan,bahagiakan Ify.".Ucapannya yang langsung membuat Rio bangkit dari tempat duduknya.Mendekati papa lantas mencium tangan papa dan memeluk papa erat.Terlihat raut muka bahagia disana,teramat bahagia.Hingga matanya terlihat sedikit berair."Terima kasih om." Hanya itu yang terdengar lirih suara Rio saat memeluk papa.
Kudekati dua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku itu.Kutubrukkan tubuhku ke pelukan papa.Kupeluk erat laki-laki paruh baya itu.Kutenggelamkan tangis kebahagiaanku pada dadanya.Lalu,kutarik diriku pelan-pelan.
Kulihat Rio sedang mencium tangan mama,dan memeluk mama setelahnya.
Kedekati Rio perlahan,laki-laki itu memandangku hangat,tulus dan penuh cinta.Dibukakannya bingkisan kotak kecil berwarna hitam yang disimpan disakunya.Cincin putih bermata berlian warna ungu yang sangat cantik sedang ada di depanku.Perlahan di raihnya tanganku dan memasangkannya cincin cantik itu pada jari manisku.Air mata bahagiaku jatuh tak tertahan.
Kupeluk Rio setelah ia selesai memasangkan cincin."Aku sayang kamu." ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.Aku hanya mampu menganggukan kepala dalam pelukannya,sebagai isyarat yang berarti "Aku juga menyayangimu,Mario Stevano Aditya Haling."
Laki-laki itu datang kerumah.Dengan sebuket bunga mawar merah dan segenggam keberanian untuk menemui papaku.Entah apa yang akan dilakukannya.Hatiku berdebar tak karuan.Aku begitu takut dia melakukan hal gila atau hal bodoh di depan papaku.Hatiku was-was,namun ditilik dari reaksi tubuhnya yang begitu tenang,hatiku sedikit terasa hangat.
"Silaturrahmi",hanya itu yang dikatakannya ketika aku bertanya apa tujuannya datang kesini dan ingin bertemu papaku.Alasan yang cukup masuk akal,namun tak bisa diterima oleh hatiku.Hatiku ingin penjelasan lebih,namun laki-laki menyebalkan itu tetap bungkam dan hanya menjawab pertanyaanku dengan senyuman.
Hanya berdua di ruang tamu.Tanpa suara,berkecamuk dalam pikiran masing-masing.Tampilannya begitu rapi.Melihatnya memakai setelan kemeja berwarna putih dengan raut muka tegang seperti itu entah mengapa membuatku ingin tertawa sekencang-kencangnya.
Aku memandangnya dengan tatapan aneh.Ingin tertawa melihatnya seperti ini.keningku berkerut dan bibirku menyunggingkan senyum.
"Kenapa?" Tanyanya sambil menoleh ke arahku.
Aku menggelengkan kepala pelan,masih dengan tersenyum kearahnya.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu.Kamu kenapa?aneh tau gak lihat kamu kayak gini." Ucapku santai.
"Nanti juga bakal tau aku kenapa." Ucapnya santai,sambil menyunggingkan senyum teka-teki.
"Aneh." Ucapku sambil memalingkan wajah,lantas mengambil majalah yang ada di atas meja.
"Kamu terus bilang aku aneh.Padahal udah ganteng gini." Ucapnya narsis yang membuatku melengos.
"Cuma tante Rosa yang bilang kamu ganteng,aku mah kagak pernah." Ucapku sambil menjulurkan lidah.
"Berhenti manggil mama dengan sebutan tante deh.Lagian,bentar lagi juga bakal jadi mama kamu." Ucapnya sambil memandang raut mukaku yang mendadak kaku.
"Hah???" Jawabku kaget.
"Hahahaha...." Dia tertawa melihat wajah oonku saat ini.
"Udahh...pergi sana,tuh papa kamu udah mau kesini.Urusan cowok,jadi kamu gak boleh ganggu." Lanjutnya sambil mendorong bahuku.
"Yang punya rumah siapa,yang ngusir siapa." Ucapku ngeledek.
Dia hanya terkekeh melihat bibirku yang mulai manyun akibat ulahnya.
***
Kukuping percakapan dua laki-laki itu bersama mama.
"Apa kabar Mario?" Tanya ayahku memulai percakapan.
"Sangat baik,om apa kabar?sehat?" Jawab sekaligus tanya Rio pada papaku.
"Seperti yang kamu lihat nak,sehat sekali.Papa mamamu bagaimana?sehat?" Tanya papaku lagi.
"Alhamdulillah semua baik om." Jawab Rio ramah.
10 menit berlalu,mereka saling diam.Mungkin bingung ingin membicarakan hal apa dan memulai dari mana.Hatiku entah mengapa ikut was-was melihat raut wajah Rio yang semakin tegang.
"Om..." Kudengar Rio memecah keheningan di ruang tamu.
Satu tarikan nafas panjang terlihat begitu jelas oleh indra penglihatanku.Kugenggam erat jari jemari mamaku.Hatiku berdegub tak karuan,menunggu kata-kata apa yang ingin diucapkan Rio pada papaku.
"Tujuan Rio datang kesini ingin membicarakan sesuatu hal yang menurut Rio sangat penting untuk masa depan Rio.Kehidupan Rio,kebahagiaan Rio dan Kesempurnaan hidup Rio,dan itu semua ada di tangan om hari ini..." Ucapnya tertahan,terlihat menarik nafas panjang sekali lagi.
Kulihat papa menatap rio dengan kening berkerut.Mungkin bingung sekaligus tidak paham dengan apa yang Rio ucapkan barusan."Dasar pria bodoh,mengapa berbelit-belit seperti itu." Ucapku geram dalam hati.
"Sebelumnya maaf kalau Rio mengganggu waktu istirahat om.Tapi sumpah,hari ini Rio telah bertekad ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting pada om.Rio sangat mencintai anak sulung om.Alyssa Saufika Umari..." Ucapnya terhenti.
Aku kaget mendengar ucapan laki-laki menyebalkan itu.Lalu sedetik kemudian tersenyum.Ku genggam semakin erat tangan mamaku.Ku lihat mama yang disampingku juga ikut tersenyum mendengar penuturan Rio.
"Sudah 4 tahun terakhir ini,nama itu yang selalu ada di hati dan juga pikiran Rio,nama anak sulung om.Sepertinya putri kecil om sudah berhasil menguasai seluruh hati dan pikiran Rio.Tapi Rio sama sekali tak keberatan,karena sepertinya Rio benar-benar jatuh cinta pada putri kecil om...."
"Jadi???" Sela papaku.
"Rio mau meminta izin pada om untuk menjadikan Ify gadis terakhir yang akan menemani hidup Rio.Menjadikan anak om sebagai istri dan menjadikan putri om sebagai satu-satunya ratu yang akan mengisi hati Rio...." Ucapan Rio terhenti,terlihat keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Entah mengapa air mataku menyeruak keluar mendengar ucapan Rio pada papaku."Maa..." Ucapku menghadap mama,"Apa ini sebuah lamaran?" Tanyaku pada mama.Hanya senyuman yang menjadi jawaban atas pertanyaanku tadi.Jemari lentiknya mengusap air mataku dengan perlahan.Kupeluk erat mamaku dan kutumpahkan air mata kebahagiaanku dipelukannya.
"Rio berjanji..." Terdengar Rio mulai mengucap isi hatinya pada papa.
"Rio akan membahagiakan Ify.Tak akan ada satupun air mata kesedihan yang keluar dari mata cantik anak sulung om.Sepenuh hati Rio akan membahagiakannya dan menjaganya dari apapun dan siapapun.Kalau suatu saat nanti,ternyata Rio melanggar ucapan janji Rio hari ini,om boleh langsung menghajar atau bahkan membunuh Rio saat itu juga..." Ucapnya yakin.
"Apa ini sebuah lamaran Mario Haling?" Tanya papaku padanya.
"Entah bisa disebut lamaran atau tidak,Rio tak tahu itu.Yang pasti,Rio disini,dihadapan om Ferdi,sekali lagi ingin meminta izin untuk membahagiakan hidup Alyssa Saufika Umari dan akan berjanji menjaganya dari apapun dan siapapun.Apa Om Ferdi mengizinkannya?" Ucap Rio mantap sepenuh hati.
Terlihat papa hanya diam disana,tak membuka mulutnya.Tak memberi jawaban apapun atas segala macam janji sumpah yang diucapkan Rio.
Menit demi menit berlalu,sunyi,sepi dan tak terdengar siapapun yang berbicara.Terlihat Rio semakin tegang disana.Raut mukanya tak bisa terdeskripsikan ekspresinya.
Papa bangkit dari tempat duduknya.Lantas tersenyum seraya berkata "Om mengizinkan,bahagiakan Ify.".Ucapannya yang langsung membuat Rio bangkit dari tempat duduknya.Mendekati papa lantas mencium tangan papa dan memeluk papa erat.Terlihat raut muka bahagia disana,teramat bahagia.Hingga matanya terlihat sedikit berair."Terima kasih om." Hanya itu yang terdengar lirih suara Rio saat memeluk papa.
Kudekati dua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku itu.Kutubrukkan tubuhku ke pelukan papa.Kupeluk erat laki-laki paruh baya itu.Kutenggelamkan tangis kebahagiaanku pada dadanya.Lalu,kutarik diriku pelan-pelan.
Kulihat Rio sedang mencium tangan mama,dan memeluk mama setelahnya.
Kedekati Rio perlahan,laki-laki itu memandangku hangat,tulus dan penuh cinta.Dibukakannya bingkisan kotak kecil berwarna hitam yang disimpan disakunya.Cincin putih bermata berlian warna ungu yang sangat cantik sedang ada di depanku.Perlahan di raihnya tanganku dan memasangkannya cincin cantik itu pada jari manisku.Air mata bahagiaku jatuh tak tertahan.
Kupeluk Rio setelah ia selesai memasangkan cincin."Aku sayang kamu." ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.Aku hanya mampu menganggukan kepala dalam pelukannya,sebagai isyarat yang berarti "Aku juga menyayangimu,Mario Stevano Aditya Haling."
Langganan:
Komentar (Atom)